Jumat, 11 Februari 2011

Singapore on CNY 2011 (3): Mustafa ya Mustafa..

Mustafa Department Store yang terkenal dengan nama ‘Mustafa’ adalah tempat yang mudah dicapai dengan menggunakan MRT. Pilihlah Farrer Park Station (jalur ungu, wah, saya lupa, itu north, east, atau south ya?), dan keluar dari Farrer Park, Anda langsung dengan mudahnya menemukan department store yang bernama, “Mustafa & Samsuddin Co. Pte, Ltd.” Farrer Park adalah kawasan di dekat Little India, dan rasanya mendengar nama kawasan ‘Little India’, sudah kebayang dong isi Mustafa itu mayoritas adalah orang-orang bersuku bangsa apa aja? Pastihe bisahe ketebake.. hehehe...

Pertama kali saya mengenal Mustafa itu di tahun 2008, pada saat kunjungan saya yang ketiga di Singapore. Mustafa ini beroperasi selama 24 jam, dan waktu itu saya pergi sekitar jam 22.30 ke sana, sehingga suasana sudah terbilang agak sepi. Namun, kali ini saya merasa bahwa saya tidak sekuat yang dulu lagi untuk keluar berpergian di malam hari (yah, walau pun belum renta-renta amat sih, hehehe), sehingga sekitar jam 15.00, saya putuskan dari Suntec City (tempat saya meng-eksplor sale buku-buku di Carefour yang ada di mall itu) untuk beralih ke Mustafa.

Saya juga tidak ingat persis, berapa lantai yang dimiliki Mustafa itu. Namun sepertinya HAMPIR seluruh barang di jual di situ. Elektronik, Pakaian, Parfum, DVD-CD, buku-buku, groceries, dan masih banyak lagi. Samakan saja stok Mustafa itu dengan Carefour, tapi dengan tampilan yang lebih kumal dan sesak. Saya jadi ingat masa kecil saya di kompleks pertokoan Aldiron Blok M Plaza di tahun 80-an. Mirip sekali dengan apa yang ada di Mustafa itu. Ya bentuk bangunannya, dan juga isinya. Hanya saja Mustafa sangat jauh lebih lengkap ‘jualannya’ dibandingkan dengan Aldiron pada masa jayanya.

Karena kunjungan saya kali ini dilakukan pada sore hari, di hari libur pada jam yang sangat strategis, maka Mustafa pun PENUH SESAK dengan BERBAGAI UMAT MANUSIA dari SELURUH PENJURU DUNIA (yang terakhir ini agak-agak efek lebay dikit lah, hehehe). Dari luar pun terlihat tempat itu penuh sesak! Dan sialnya, ketika saya masuk pintu gerbang gedung, all of sudden alarm keamanan berbunyi! Shit! Sepertinya buku yang saya beli di Carefour Suntec itu yang menjadi gara-gara (belum dinetralisasi pengamannya). Saya pun langsung digiring ke petugas keamanan, yang memohon untuk memeriksa seluruh barang bawaan saya. Untungnya semua aman-aman saja, dan saya ‘dilepas’ oleh mereka dengan ‘ikhlas’ untuk berbelanja di Mustafa.

Walau pun dalam keadaan penuh sesak, dengan pengunjung mayoritas orang India, saya tetap meluangkan waktu untuk memilih-milih barang yang saya butuhkan. Hebat juga pikir saya, toko yang sebenarnya dikategorikan ‘low level’ ini masih menjual barang-barang ‘high level’ seperti misalnya parfum dari Hugo Boss, atau leather belt dari Arnold Palmer dan Pierre Cardin. Harganya ya hanya lebih sedikit murah (beda sekitar SGD2-5 per item) dari pertokoan di kawasan Orchard. Kecuali untuk barang-barang program promo, seperti Army for Men Hugo Boss 150ml yang dibanderol SGD110 untuk Buy One Get One di Mustafa dan sempat saya lihat dibanderol SGD90 (untuk 1 buah saja) di Metro Orchard!

Groceries yang dijual pun juga beragam, yang kadang-kadang saya tidak temukan di pertokoan besar seperti di Orchard atau pun Suntec. Yang lebih lucunya lagi, busana dengan merk Crocodile yang umumnya saya tidak temukan di kawasan Orchard, dan biasanya hanya saya temukan di Indonesia, kok tiba-tiba bisa ada di Mustafa sini ya? Hebatnya lagi, VCD dan DVD Indonesia pun berkeliaran bebas di tempat ini! Label kategorinya sih, “Malaysian Movies”, tapi begitu kita melihat dengan lebih detil, loh kok di cover disc-nya ada Dian Sastro, Tora Sudiro, wah, wah, ini namanya misleading the information nih.. hehehehe..

Koleksi CD musik Indonesia, Melayu dan India (ya ea lah yaw) juga sangat lengkap sekali ada di sana. CD-CD barat pun juga dijual di sana. Saya sempat tertegun, melihat CD dari Justin Bieber yang dibanderol dengan harga SGD19. Soalnya, saya lihat di kawasan Orchard, di toko mana pun, CD Justin Bieber (dan artis lain yang sejenis dengan ‘kategori produk’ itu) dibanderol dengan harga SGD22. Wah, di sini lebih murah ya? Saya ambil, saya lihat, saya teliti dengan seksama, loh, kok ada tanda “Lunas PPN Indonesia?” Ternyata setelah saya amati baik-baik, CD itu adalah CD produksi Indonesia (yang di Jakarta harga standarnya Rp75.000, atau SGD10), dan kembali di-ekspor ke Singapore serta di-mark up di Mustafa! So, yang saya lihat di Orchard itu adalah CD for sale in Singapore, sementara yang di Mustafa adalah CD for sale in Indonesia. Pantesan ya lebih murah ya, ada-ada ajee ya Mustafeee.. hehehehe..

Saran saya, janganlah ke Mustafa di jam-jam sibuk. Lebih baik Anda beristirahat sejenak di tempat menginap Anda, untuk kembali ke area Mustafa di atas jam 22.00. Soalnya, karena saking penuh sesaknya, saya beberapa kali terinjak-injak pengunjung lain (terutama orang-orang Tamil berbadan besar dan berkulit hitam legam, yang langsung melibas saya nan mungil dan tidak berdaya ini), bahkan lengan saya sempat terluka kecil tergores ujung kardus belanjaan salah seorang Ibu-Ibu India yang berpapasan dengan saya di salah satu lorong rak perbelanjaan (walau pun berulang kali dia said sorry, tapi gue kan udah kegores ya booo).

Mustafa ya Mustafa.. Kunjungan Anda ke Singapore tentu akan kurang berkesan bila melewatkan yang satu itu..

Singapore on CNY 2011 (2): CNY di Singapore Sepi? Yakin?

Seperti yang saya jelaskan di atas, saya dan istri saya juga tidak begitu mengerti bagaimana awal timbulnya rencana kami untuk mengunjungi Singapore pada hari pertama CNY 2011. Bagi istri saya, kunjungan ke Singapore ini adalah kunjungan pertamanya ke luar negeri, sehingga ia tidak terlalu perduli tentang kapan sebaiknya kunjungan ke Singapore dilakukan. Sementara bagi saya, kunjungan ke Singapore sudah saya lakukan pada Natal dan Tahun Baru 1995 (seminggu full), pada bulan Juni tahun 1998 (seminggu full), after new year tahun 2004 (cukup 3 hari), dan pada bulan Juni tahun 2008 (5 hari). Saya belum pernah mengunjungi Singapore pada saat CNY, sehingga untuk kali ini, saya putuskan jadwal kunjungan ke Singapore jatuh pada hari pertama CNY 2011.

Sepertinya memang ilham saya selalu datang terlambat. Pada saat saya melakukan seluruh booking transportasi dan akomodasi di Singapore untuk hari pertama CNY 2011 sampai 4 hari kedepannya, saya tidak melakukan browsing apa pun untuk mengetahui kondisi Singapore pada saat itu. Tiba-tiba saja sekitar dua minggu sebelum keberangkatan, saya tergelitik untuk mengetahui program wisata apa saja yang dimiliki Singapore selama hari pertama sampai 4 hari ke depan di CNY 2011. Uraian yang saya dapatkan dari proses googling pun rata-rata memberikan result yang sama, “Imlek hari-H di Singapore, kayak kota mati.” Malahan ada yang lebih parah lagi, “Warning: Do not go to Singapore on the H-day of CNY. All big department stores are closed during H and H+1!”

I was sooo speechless at that time..

Tiket dan akomodasi sudah dipesan, ditambah dengan kondisi akan pergi seorang diri di hari H dan H+1 on CNY (karena istri baru berjanji akan datang di malam hari on H+1), dan indikasi kota Singapore terbilang sepi on those days, yah, mau bilang apa lagi? Me-reskedul tiket flight dan akomodasi jelas akan memakan biaya tambahan yang lebih besar lagi. Ya sudahlah, akhirnya toh saya niatkan untuk tetap pergi di hari-H dengan penerbangan jam 9.00 waktu Jakarta dan dijanjikan akan tiba di Changi pada jam 12.00 waktu Singapore.

Mendarat di Changi, saya sudah mempersiapkan mental untuk menerima kondisi kota mati. Yang ada ternyata seluruh resto, cafe dan duty free shop di sana penuh sesak dengan banyak orang. Saya sempat bingung juga, oh, mungkin karena banyak orang kota yang justru datang ke Changi untuk pulang ke kampungnya bertemu sanak saudara masing-masing. Saya hampir mengira dugaan saya benar, ketika berada dalam MRT dari Changi ke tempat penginapan saya di Orchard. Suasana MRT-nya sepi sekali.

Namun, kembali saya menjadi ragu-ragu setelah melihat di stasiun Tanah Merah (interconnection dari Changi menuju ke pusat kota), penumpang mulai tumpah ruah memenuhi MRT. Saya kembali berpikir, mungkin ini adalah penduduk yang hendak bersilaturahmi ke rumah kerabat di kota yang sama. Dan, ketika berhenti di stasiun Orchard, hipotesis saya gagal total untuk diterima. Orchard penuh sesak dengan manusia! Ketika saya berjalan kaki menuju tempat menginap di Lucky Plaza, jalanan di Orchard itu benar-benar jauh dari definisi ‘sepi’.

Memang, departement store yang besar semacam Tangs dan si legendaris Takashimaya di Nge Ann City tutup selama dua hari (H dan H+1). Namun, 50% mall di Orchard Road itu tetap beroperasi. Paragon, Far East Plaza dan Ion misalnya, tetap buka. Beberapa store di dalamnya pun tetap buka, seperti Miu-Miu, Prada dan Burberry di Mall Paragon (tapi ya dompet saya yang susah terbuka untuk brand-brand seperti itu, hehehe). Restoran-restoran juga masih banyak yang berjualan. Dan seperti biasa, Lucky Plaza tetap ramai dengan blue collar worker dari Filipina. Saya malah sempat menghabiskan waktu sampai jam 21.00 untuk menggiatkan kegiatan perekonomian nasional di toko CD-DVD ‘HMV’ (mall 313) dan toko buku Borders di Wheelock Palace.

Hari kedua pun juga sama. Orchard masih ramai. Saya mencoba untuk melangkah lebih jauh ke daerah Suntec Mall dan Raffless City Link Mall, termasuk ke Marina Mall. Sepi sih memang. Tidak seramai di Orchard. 70% toko-toko di mall-mall tersebut tutup. Namun, beberapa restoran chinesse dan american fastfood tetap buka. Carefour si ritel besar pun juga tetap beroperasi, dan memberikan kegiatan kepada saya untuk memeriksa sale buku-buku up to 70% (buku-buku anak-anak, fiksi, dan social sciences) yang ditawarkannya.


Sekitar jam 15.00 saya mencoba untuk pergi ke kawasan Little India dan Serangoon Plaza yang terkenal dengan Mustafa Department Store-nya. Wah, kata ‘sepi’ sepertinya tidak dikenal di kawasan ini pada hari ke-1 CNY 2011. Ya memang sih, saya bisa pastikan 70% pengunjungnya adalah bangsa rumpun tamil (India, Bangladesh, Pakistan, Srilangka), yang di kota Medan umumnya disebut dengan ‘kaum keling’. Tentunya, semakin membuat saya yang berkulit kuning ini menjadi seperti mutiara di tengah-tengah tanah hitam, hehehe. Kawasan Orchard pun juga masih tetap ramai pada jam 21.00 ketika saya pergi ke bandara Changi (yang juga masih tetap ramai pada jam itu) untuk menjemput istri saya dari Jakarta..

Jadi, Singapore sepi on CNY? Ah, jangan terlalu percaya dengan kabar burung lah..Percaya lah pada burung milik sendiri atau pun milik pasangan masing-masing saja, hehehe..

Singapore on CNY 2011 (1): Bekerja demi Sesuap Nasi, eh, Sesuap Cuti..

Saya memang sudah meniatkan untuk pergi ke Singapore pada tahun ini, entah bagaimana caranya dan kapan terealisasinya. Kebetulan, saya kan baru menikah di tahun 2009 (belum sampai dua tahun, jadi masih terbilang baru lah, sebagai tambahan, kondisi onderdil-onderdil penting dalam pernikahan juga masih terbilang anyar.. hehehe), dan istri saya juga belum pernah sama sekali ‘menjajal paspor’, yah, marilah kita pergi di tahun 2011 ini.

Karena level pekerjaan saya, lagi-lagi, masih termasuk dalam kasta budak dan pesuruh, hehehe, tiket penerbangan dan penginapan termurah adalah salah satu kondisi yang ‘is a must’ untuk dipenuhi. Yah, tentunya nggak backpaking-backpaking amat sih, tapi juga nggak akan mungkin yang four star-four star gitu lah. Jadinya, booking dilakukan dari jauh-jauh hari sebelumnya (Desember 2009), dengan tujuan untuk mendapatkan harga transportasi dan akomodasi yang murah. Dan, entah bagaimana awal ceritanya, saya dan istri saya tiba-tiba terinspirasi untuk berada di Singapore pada hari pertama Chinesse New Year (CNY) 2011 hingga empat hari ke depannya.

Setelah semua di-booking dan rencana mulai akan diwujudkan, halangan demi halangan pun bermunculan. Cuti yang sudah saya rencanakan pada Jumat (hari kejepit setelah CNY) dan Senin setelahnya mendapatkan ‘ancaman’. Semula saya ambil cuti itu dengan kondisi bahwa saya sedang ‘tidak terlibat dalam proyek audit apa pun’. Namun, cobaan memang selalu ada dari Yang Maha Kuasa, hehehe, tiba-tiba saja proyek audit 1 yang saya ikuti di-reskedul sehingga pada hari Jumat kejepit itu saya seharusnya tetap ada di kantor dan menyelesaikan report proyek audit 1. Ndilalah, seperti tidak mau kalah, proyek audit 2 yang semula akan diawali pada hari Rabu, dimajukan pada hari Senin! Walhasil dua hari yang saya berencana akan cuti itu menjadi bukan merupakan jadwal ‘kosong’ lagi bagi pekerjaan saya.

Hungry people can make a revolution. Itu lah yang terjadi di Rusia dan Prancis. Kekuatan kaum kelas bawah Rusia yang kelaparan pun menjadi sasaran empuk bagi revolusi Kaum Komunis untuk membunuh anggota monarki kerajaan Tsar Rusia sekaligus merebut kekuasaan pemerintahan, juga di Prancis, di mana rakyat mendukung Kaum Republik untuk membunuh anggota monarki kerajaan sekaligus merebut kekuasaan pemerintahan. Dan saya, yang benar-benar kelaparan akan cuti, juga langsung beringas. Menghadap manager proyek audit 1 dan 2, dengan mental nekat dan membaja. Manager 1 masih berkilah, “Tapi Adhi lho yang harus bikin laporan proyek audit 1, kok malah cuti?” Saya pun langsung melotot, “Lho, tapi kan saya tidak tahu bahwa jadwal akan dimundurkan? Itu kan bukan salah saya! Tiket sudah dipesan! Tapi saya janji akan menyelesaikan laporannya sebelum saya cuti.” Sementara itu manajer proyek 2 juga mulai mengeluarkan kuda-kuda, “Lah? Mau kemana? Kan awal audit? Kok malah cuti?” Jawaban yang sama kembali saya ulangi, “Meneketehe kalo jadwal dimajukan yaw?”

Dan seperti Kaum Komunis Rusia mau pun Kaum Republik di Prancis, saya berhasil pula merebut kekuasaan! Meraih cuti 2 hari! Dengan perjuangan yang bersimbah darah dan air mata walau pun hanya 2 hari saja loh! Kebayang.. 2 hari sajaaaaaaaa.. Bagaimana kalau 2 minggu full ya? Hehehe..

Ujian tidak berhenti sampai disitu. Ternyata eh ternyata, sekarang gantian istri yang tidak bisa cuti. TIDAK BISA! Bayangkan, sudah berimajinasi akan pergi berdua-dua dengan istri (dan meninggalkan anak yang masih 6 bulan, gak papa, belum terlalu sadar ini, hihihihi), tiba-tiba terancam batal! Cuti liburan ini adalah pemicu uji kesabaran saya terhadap eksistensi wanita karir! Hehehe. Saya malah sempat memerintahkan dia untuk resign, jadi tidak perlu disulitkan oleh jadwal-jadwal kerjaan dalam mempertimbangkan cuti, dan terutama untuk bisa lebih konsen dalam mengurusi saya tentunya supaya saya tidak kusam dan lapuk secara mendadak, hihihihi. Maklum, istri saya ini sedang tertimpa job yang tidak enak, ditambah mungkin kompetensi dan integritas dari beberapa atasan dan bawahannya yang memang tidak setara dengannya membuat baik klien mau pun middle superior-nya jadi berberat hati untuk mengizinkannya cuti 2 hari. Izin hanya diberikan untuk 1 hari saja.

Setelah bertengkar secara online (lebih asik, pake BBM dan YM, jadi tidak tampak secara nyata, sepertinya kan rukun-rukun saja, di depan umum.. padahal ya boo.. hehehe), dan melakukan utak-atik untuk rescheduling jadwal cuti, akhirnya demi menjaga kerukunan dan stabilitas rumah tangga, diputuskan bahwa saya akan pergi sendiri di hari Kamis on CNY 2011 itu, dan istri akan menyusul pada hari Jumat malam. Dan, sepertinya, ujian tidak pernah lepas dari kehidupan kami, hehehe, Jumat malam itu, karena (lagi-lagi) istri saya tidak bisa ‘cabut’ cepat dan harus bekerja hingga jam terakhir, ditambah dengan kemacetan di Jakarta yang edan-edanan, akhirnya istri saya missed the flight of 18.55, menghanguskan tiket Air Asia miliknya, dan kembali membeli tiket GIA ke Singapore of 20.30. Itu pun ditambah dengan masuk angin yang berat dari Istri saya karena keanginan naik ojek ke Bandara di Jakarta yang jalanannya muacet uedan dan disambut dengan AC Changi jam 23.30 Singapore yang dingin dan membeku.

Biasanya sih kalo awalnya penuh perjuangan, akhirnya pasti membahagiakan.. Benarkah begitu? Simak catatan-catatan kami berikutnya.. hehehe..

Selasa, 11 Januari 2011

It's Always Hot with Hot Money

Sekilas Mengenai Hot Money

Walau pun belum terdapat definisi yang jelas mengenai hot money, dalam pengertian ekonomi, hot money merupakan uang yang dapat keluar masuk ke satu negara (untuk ditanamkan dalam instrumen keuangan) dengan bebas, umumnya berjangka pendek atau dalam waktu yang tidak terlalu lama. Efek positifnya, uang masuk tersebut dapat menjadi nilai tambah bagi perekonomian suatu negara, yang sekaligus juga dapat memberikan efek negatif cukup dahsyat bila bergerak keluar sewaktu-waktu tanpa diduga sebelumnya.

Hot money adalah dana yang berasal dari pihak asing, atau dari luar Indonesia. Seperti yang kita ketahui, ekonomi dunia (baca: negara-negara maju) saat ini sedang dalam situasi yang kritis. Pada awal bulan November 2010 misalnya, Amerika melalui The Fed (bank sentral negaranya) memutuskan untuk mengucurkan stimulus ke pasar sebesar USD600 Miliar, dengan tujuan untuk menggairahkan ekonomi nasional dan mereduksi tingginya angka pengangguran (9,6%) serta indikasi deflasi. Bahkan sebelumnya, pada bulan Maret 2009, negara-negara yang tergabung dalam Uni Eropa sepakat untuk meluncurkan program stimulus ekonomi senilai EUR400 Miliar Euro yang akan diterapkan hingga tahun 2011. Dan, seperti tidak ingin kalah, pada Agustus 2010 giliran Jepang yang mengumumkan kebijakan stimulus Ekonomi senilai USD61 miliar.

Aksi The Fed, Uni Eropa dan Jepang tersebut tentunya memberikan pengaruh terhadap negara lainnya di dunia khususnya di negara-negara berkembang (emerging market). Mengingat bahwa suku bunga dolar AS, Euro dan Yen sangat rendah dan diperkirakan akan tetap rendah hingga 2011 (sebagai konsekuensi rapuhnya kondisi ekonomi di wilayah tersebut), maka mata investor global pun ‘berkilau’ melihat pasar emerging market sebagai pasar potensial yang dapat memberikan return tinggi untuk investasi keuangannya. Di Indonesia fenomena hot money ini terwujud dalam tiga instrumen keuangan, yaitu SUN, SBI, dan saham. Sebagai catatan, hot money yang masuk ke Indonesia dalam 9 bulan pertama 2010 adalah sebesar Rp115 Triliun, dengan porsi 64% ke dalam SUN, 18% ke Sertifikat Bank Indonesia (SBI) dan 18% ke pasar saham. Diduga lebih dari Rp20 Triliun porsi hot money tersebut membanjiri pasar saham Indonesia dalam 4 bulan terakhir, yang juga memicu kenaikan yang signifikan terhadap Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan menjadikan bursa Indonesia sebagai bursa dengan imbal hasil tertinggi di Asia.


Pengaruh Hot Money terhadap Perekonomian Nasional

Di satu sisi terlihat bahwa hot money yang masuk dapat menambah cadangan devisa USD dan mata uang asing dalam perekonomian nasional, yang juga berarti mengurangi kelangkaan devisa dan otomatis memperkuat nilai tukar (kurs) mata uang Rupiah. Namun, perlu diwaspadai bahwa penguatan Rupiah yang terus menurus akan menggerus cadangan devisa BI berdenominasi Rupiah. Oleh sebab itu, selanjutnya BI selaku regulator akan melakukan intervensi di pasar uang, dengan menjual rupiah dan membeli USD serta mata uang asing lainnya, walau pun tetap menimbulkan pertanyaan mengenai besarnya kemampuan persediaan ‘material’ BI dalam mengantisipasi derasnya stimulus The Fed dan negara-negara asing lainnya.

Masalah lain juga akan timbul bila cadangan devisa BI dalam USD meningkat secara signifikan dan memperkuat kurs USD. Rupiah yang beredar di pasar dalam jumlah besar akan berpotensi memicu inflasi bila tidak terserap oleh sektor riil, dan yang seperti kita pahami, bahwa kondisi sektor riil di Indonesia pun tidak begitu menggairahkan pada saat ini. Sebaliknya, bila hot money ini mendadak sontak keluar dari Indonesia dan pindah ke negara lain (yang lebih menggiurkan bagi para spekulan, misalnya), dampak buruk dalam bentuk penguatan kurs USD dan beberapa mata uang asing lainnya secara berlebihan serta sentimen pasar terhadap harga saham dan kegiatan konsumsi akan memacu timbulnya inflasi dan ketidakstabilan ekonomi nasional.

Untuk itu, dalam meredam potensi kenaikan inflasi, BI akan melakukan ‘sterilisasi’ dengan tujuan menyerap kembali ekses likuiditas Rupiah melalui mekanisme operasi pasar terbuka (OPT) atau penjualan SBI. Sebagai informasi, nilai SUN AS bertenor 5 tahun hanya memberikan imbal hasil sebesar 1,8%, dan dengan rate SBI yang berkisar pada 6,5% pada saat ini tentu saja akan membawa ‘kerugian’ sebesar 4,7% yang sedapat mungkin dihindari oleh BI di dalam melakukan OPT. Dengan demikian, keberadaan hot money jelas mempersulit BI di dalam menentukan kebijakan stabilitas moneter apa pun yang diambilnya, karena masing-masing kebijakan telah memiliki risiko tersendiri.


There can be Miracles when You Believe

Tidak dapat dipungkiri bahwa pergerakan sentimen pasar adalah faktor yang menentukan terhadap besarnya efek positif dan negatif dari hot money itu sendiri, yang berarti bahwa kepercayaan publik/investor terhadap Pemerintah Indonesia di dalam menetapkan kebijakan politik dan ekonomi menjadi suatu hal yang penting untuk diperhatikan.

Dalam jangka pendek, pembatasan SBI one-month holding period yang baru diterapkan pada pertengahan tahun 2010 ini merupakan salah satu upaya pemerintah (dalam hal ini BI) untuk menjaga kepercayaan publik. Batasan tetap diberikan, namun tidak mengikat, yang berarti bahwa hot money dari para spekulan asing hanya tidak dapat bergerak ‘bebas’ selama sebulan pada SBI dimaksud. Alternatif capital control (pengendalian modal yang ketat dengan impresi ketidakpercayaan pemerintah terhadap publik/investor) tidak dirasa sebagai solusi jangka pendek yang tepat, mengingat UU BI menganut sistem capital free flow (devisa bebas, dana asing bebas masuk dan keluar kapan saja) maka capital control kurang sesuai untuk diterapkan di Indonesia. Hal ini juga diperkuat oleh pengalaman buruk Thailand di tahun 2006 yang mengalami penurunan kepercayaan investor akibat penerapan capital control. Hanya dalam waktu 1 hari setelah capital control diberlakukan, kapitalisasi 20 perusahaan besar di Thailand anjlok tajam dipasar modal.

Menjaga kepercayaan publik terhadap terselenggaranya situasi politik negara yang aman dan dinamis juga merupakan salah satu hal yang harus dilakukan untuk mengupayakan kepastian return dalam pasar keuangan. Terorisme dan tindakan anarkis bersifat politis umumnya langsung akan membawa guncangan kepada return di pasar keuangan sekaligus memacu hot money untuk bergerak keluar-masuk dalam pola yang lebih liar. Sebagai tambahan, rating Indonesia yang baik di tahun 2010 dari The Fitch Ratings, Standard & Poor’s dan Moody’s Investors Service adalah benda berharga yang seyogyanya terus dijaga dan dipertahankan secara berkesinambungan

Yang juga tidak kalah pentingnya adalah bahwa pemerintah harus berupaya meningkatkan kepercayaan publik dalam menggerakkan sektor riil, terutama di dalam pembangunan proyek-proyek milik negara, sehingga pergerakan liar hot money akan dapat dialihkan ke luar dari sektor keuangan dan moneter (yang akan selalu menimbulkan permasalahan ‘lingkaran setan’ tak berujung) menuju kepada sektor fiskal, terlebih investasi dalam proyek-proyek tersebut lebih bersifat jangka panjang dan dapat meredam pergerakan liar hot money yang umumnya berjangka pendek dan cepat. Hanya saja, tipisnya kepercayaan publik terhadap peran pemerintah di dalam sektor rill yang sarat dengan Kolusi, Korupsi dan Nepotisme (KKN) menjadi penghalang yang cukup besar untuk memindahkan perhatian investor dari sektor keuangan.

There can be miracles, when you believe..

The question is, do you believe?

Ask to yourself..

Not to Mariah Carey or even Whitney Houston.. :P

Salam..

Jumat, 17 September 2010

Redenominasi: There can be Miracles, When You Believe..

Lagi-lagi nih, karena bidang pekerjaan saya erat hubungan dengan bidang bisnis, manajemen dan ekonomi, hampir sebagian besar kenalan atau kerabat yang bertemu saya dalam 1 (satu) bulan belakangan ini (termasuk pada saat silaturahmi Lebaran), bertanya kepada saya mengenai istilah horror (saya katakan horror karena mereka bertanya seakan-akan istilah itu merupakan ancaman seperti virus HIV) “Redenominasi”.

Dokter gigi saya, dalam setiap kunjungan saya selalu bertanya, “Sebenarnya menurut you negara kita itu pantes nggak untuk mulai ber-redenominasi?” Atau pertanyaan salah satu kerabat saya, “Redenominasi itu apa emang sengaja dihembuskan biar orang pada lupa sama kasus Century ya?" Saya sempet bengong dengan analisisnya yang kok jauh bener, walo sempet ragu, jangan-jangan iya ya, soalnya begitu masalah redenominasi mengemuka, langsung deh masalah Century ‘terlupakan’. Teman saya bahkan lebih ekstrim lagi, “BI itu udah kurang kerjaan banget ya pake ngusulin Redenominasi segala? Udah deh, daripada begitu, mending orang-orang BI itu disuruh bantuin gue aja di kantor. Kerjaan gue banyak nih.”

Sedemikian takutnya publik terhadap redenominasi. Kalau saja redenominasi ini dijadikan film horror/thriller, rasanya film-film Stephen King lewat dah..

Sesuai dengan informasi yang dipublikasikan oleh BI, redenominasi ini adalah penyederhanaan digit mata uang, yang juga dibarengi oleh penyederhanaan digit harga-harga barang. Jadi misalnya, harga sepaket McDonalds Rp20.000, nanti akan di-redenominasi menjadi Rp20 (tiga nol dibelakangnya dihilangkan), dan BI akan mencetak uang Rp20 sebagai pengganti Rp20.000. Sebenarnya ide ini cukup sederhana dan tidak terdengar menakutkan, karena dimaksudkan agar digit mata uang negara juga kompetitif dibandingkan dengan mata uang asing yang kuat (impresi yang berbeda, harga sepaket McD di US adalah USD5 dan di Indonesia Rp20.000, dengan komparasi bila harga sepaket McD di US adalah USD5 dan di Indonesia Rp20).

Namun, pengalaman buruk yang dialami oleh Indonesia memang membawa kesan tersendiri bagi beberapa generasi lama (yang umumnya lahir sebelum atau dalam kurun waktu 1 s.d 5 tahun setelah kemerdekaan Indonesia). Ambil saja contoh Dokter Gigi saya yang umurnya seangkatan Ibu saya kembali mengenang masa-masa tahun 1960-an, “Apa jangan-jangan redenominasi itu hanya untuk menyamarkan ‘sanering’ seperti tahun 1960 ya? Waktu itu uang dipotong, menjadi tidak bernilai, sementara harga barang-barang tidak berubah (misalnya sepaket McD tetap berharga Rp20.000, sementara uang yang Anda miliki dari Rp20.000 dipotong nilainya menjadi Rp20, sehingga daya beli masyarakat menurun).” Saya meyakinkannya berulang kali bahwa konsep redenominasi bukan seperti itu. Harga barang dan nilai uang sama-sama dipangkas nominal nilainya. Ini hanya masalah nominal saja, bukan masalah nilai barang itu sendiri.

Yang semula saya tidak terlalu perduli dengan urusan redenominasi ini, akhirnya saja jadi menerabas ke beberapa koleksi jurnal dan penelitian ilmiah dalam bidang ekonomi untuk kategori currency values and redenomination. Dari jurnal tersebut diketahui, bahwa beberapa negara yang berencana meredenominasi mata uangnya ini rata-rata membutuhkan waktu yang cukup panjang untuk finalisasi kebijakannya. Dan, negara-negara yang melakukannya, ya, negara-negara dengan mata uang yang tidak terapresiasi secara internasional (istilahnya, mata uang negaranya nggak diminati atau nggak banyak fans-nya, hehehe, bukan kayak USD, GBP atau Euro yang fans-nya berjibun tersebar di muka bumi ini). Hasil penelitian membuktikan, ada negara yang sukses beredenominasi, dan ada juga yang gagal.

Kegagalan tersebut terutama sekali disebabkan karena ketidakpercayaan warga negara kepada negara/pemerintah yang meredenominasi mata uangnya. Di Rusia misalnya, publik merasa pemerintah seperti merampok kekayaan rakyat dengan meredenominasi mata uangnya, sehingga setelah diredenominasi, inflasi pun tetap tinggi di negara itu. Hal serupa juga terjadi di Zimbabwe, Argentina dan Brasil. Korea Utara justru lebih tragis lagi dengan proyek redenominasinya, karena ternyata warga tidak bisa menukarkan stok uang Won (mata uang Korea Utara) lama menjadi Won baru yang telah disederhanakan digit-nya karena berbagai alasan yang tampaknya ‘disengaja’ oleh pemerintah untuk mengatasi inflasi (dengan cara otoriteristik yang cukup memaksa).

Bagaimana halnya dengan Indonesia? Sepertinya sih, dari reaksi yang saya dapatkan selama ini mengenai redenominasi di negara kita, rasanya kepercayaan publik terhadap pemerintah Indonesia masih nol. Publik masih menganggap bahwa proyek redenominasi ini bukan sekedar menyederhanakan digit mata uang, namun lebih ke arah strategi politik dan ‘membungkus sesuatu’. Sebenarnya agak berbahaya juga untuk melaksanakan redenominasi di tengah-tengah ketidakpercayaan publik. Anda bisa bayangkan? Publik yang panik akan buru-buru menghabiskan uang yang dipegangnya dalam bentuk berbagai barangdan komoditi, sehingga inflasi malah bisa lebih membubung tinggi. Atau misalnya mereka malah menukarkan uang lokal ke mata uang asing, melarikannya ke luar negeri, dan menimbulkan krisis valuta asing kemudian.

Dalam pemikiran yang tulus, saya percaya niat baik pemerintah dalam redenominasi ini adalah untuk membuat posisi mata uang kita lebih bergengsi di mata dunia (sekaligus menghemat tenaga kasir di Bank mau pun di BI untuk menghitung lembaran-lembaran uang Rupiah kita, barangkali, hehehehe). Alangkah indahnya bila nilai USD1 = Rp9 misalnya dan bukan Rp9000. Namun, perlu dicermati juga bahwa permasalahan ini tidak akan selesai begitu saja bila dihadapkan pada satu benda penting bernama ‘ketidakpercayaan’. Ketidakpercayaan publik terhadap kinerja pemerintah akan dapat melonjakkan inflasi (kenaikan harga barang karena kelangkaan stok di pasar akibat paranoia publik dalam perilaku pembelanjaannya), dan bukan tidak mungkin, hasil dari redenominasi yang memangkas tiga digit, justru malah akan menimbulkan tiga digit baru (balik ke posisi semula) dalam kurun waktu yang tidak terlalu lama dan tidak terduga sebelumnya.

There can be miracles, when you believe..

The question is, do you believe?

Ask about this to yourself, not to Mariah Carey or Withney Houston.. :P

Salam..

Kamis, 02 September 2010

THE IDEAL IS THE IDOL, NOT THE IDLE

Sepupu saya sebenarnya sudah memiliki pekerjaan, namun sepertinya jam kerja shifting (bisa masuk jam 8 pagi, jam 4 sore, atau pun jam 12 malam) dengan tingkat bayaran yang cukup minim dan tanpa mendapatkan tunjangan yang layak (no medical or overtime allowance) membuat dia gerah dan ingin cepat-cepat hengkang dari pekerjaannya. To be honest, apa yang dia kerjakan itu sejujurnya bisa dilakukan oleh lulusan SMA. Namun, hare gene, di saat mencari pekerjaan susahnya bukan main, mau tidak mau, dia harus menerima dulu apa pun yang ada agar tidak terlalu lama menjadi seorang yang idle (tidak punya pekerjaan) walau pun pekerjaan itu terasa under qualification dengan strata S1 yang dimilikinya dan sangat jauh sekali untuk mewujudkan cita-citanya menjadi seorang idol.. hehehe.

Dan, dalam satu kesempatan karena mungkin dia begitu jengkel dengan nasibnya, pada saat membaca koran, langsung lah dia berujar, “Indonesia ini gimana sih? Saling nyalah2in mulu kerjaannya! Pemerintah bilang kalo BI meningkatkan suku bunga, katanya meredam inflasi namun mempersulit sektor riil dan mempersulit tersedianya lapangan kerja, tapi kalo suku bunga diturunin, inflasi meningkat walau pun sektor rill bergerak dan membuka banyak lapangan kerja. Sementara BI bilang harusnya pemerintah yang pinter-pinter menggerakkan sektor rill tanpa harus melalui media penurunan suku bunga. Ini gimana sih, Mas? Mas ngerti ekonomi kan?”

Oh God, why is this happening to me again? Hehehehe..

Saya menjelaskan kepada dia, sepengetahuan saya, negara kita ini sejak tahun 1999 memutuskan untuk memberikan independensi kepada Bank Sentral, yakni Bank Indonesia, sebagai otoritas moneter, yang berarti BI dapat mengambil keputusan secara independen lepas dari tanggung jawab pemerintah. Dengan demikian, pemerintah adalah sektor yang bertugas untuk menguasai area fiskal, atau sektor riil deh kalo istilah keren-nya. Jadi, untuk penyediaan lapangan pekerjaan, ya itu menjadi tugasnya dari area fiskal, yang berarti tanggung jawabnya pemerintah.

Nah, masalahnya banyak analis ekonomi berpendapat bahwa penentuan suku bunga dari BI itulah yang cukup berperan untuk menggerakkan sektor fiskal. Namun, di satu sisi, BI juga harus waspada untuk menaik-turunkan suku bunga agar tidak terjadi inflasi. Bila kembali melihat kepada tugas BI sesuai dengan UU No. 3 tahun 2004, single task BI hanyalah mengenai masalah inflasi yang diwujudkan melalui penatausahaan sistem moneter, pengawasan bank dan sistem pembayaran, jadi BI tidak bertanggung jawab untuk mengurangi tingkat pengangguran. Berbeda halnya dengan UU No. 13 tahun 1968, ketika itu BI memang memiliki tanggung jawab untuk mengentaskan pengangguran melalui penyediaan lapangan kerja yang sebesar-besarnya (maksudnya apa pada disuruh KKN untuk kerja di BI ya? Hehehe).

But anyway, at the same time, saya melihat artikel di Majalah Time (15 Agustus 2010, ditulis oleh Michael Grunwald) dengan judul, “Why Bernanke Isn’t Doing More to Boost the Economy?” Diterangkan bahwa, “Bernanke honestly believed that unemployment was the nation’s most serious economic problem, but he didn’t plan to do anything about it. Bernanke fears the potential benefits of more monetary stimulus would be modest and uncertain, while the potential risks would be dramatic and real. He’s obviously not a do-nothing chairman. 9 months ago, he clearly believed that doing nothing was his least awful option, and he still seems to fell that way.

Setelah melihat artikel tersebut, saya lega, karena bisa memberi penjelasan kepada sepupu saya, bahwa problem bentrokan antara sektor fiskal dan moneter dalam penyediaan lapangan kerja (dan juga bisa menular kepada hal-hal lain, tidak terbatas pada penyediaan lapangan kerja semata) tidak hanya terjadi di Indonesia, namun juga terjadi di negara superpower seperti Amerika. Tapi kelegaan saya langsung pupus, begitu dia meminta opini saya, “Jadi, menurut Mas, harusnya BI itu bertanggung jawab nggak untuk memastikan tersedianya lapangan pekerjaan melalui strategi penetapan suku bunga moneternya?”

Alih-alih salah menjawab, maka saya tawarkan opsi yang cukup negotiable dalam hal ini, “Yang penting adalah koordinasi antara pemerintah dan BI dalam setiap keputusan yang akan mereka ambil dalam penatausahaan ekonomi nasional!”

Sepupu saya manggut-manggut tanda setuju.

Sementara saya yang langsung khawatir kali-kali kalau pertanyaan dia lanjutkan, “Bukannya di negara kita itu koordinasi adalah barang langka, selangka koleksi-koleksi di Museum De Louvre Paris?” Soalnya saya udah nggak punya stok jawaban lagi kalau pertanyaannya menuju ke arah situ.

Untungnya dia tidak bertanya lebih lanjut..

Alhamdullilah deh.. :)

Selasa, 06 Juli 2010

Kepemilikan Asing di SBI: “The Taming of the Screw”

Sertifikat Bank Indonesia (SBI) adalah instrumen finansial yang ditujukan untuk menciptakan stabilisasi moneter di Indonesia. Sayangnya, banyak spekulator, terlebih pihak asing, yang menggunakan instrumen tersebut sebagai sarana yang profitabel, dan membeli SBI dimaksud pada harga optimum dengan prinsip profit-taking. BI menyadari kondisi ini disebabkan karena ineksistensi aturan yang membatasi kepemilikan pihak asing pada SBI. Sebagai kelanjutannya, mulai 7 Juli 2010, BI memutuskan untuk mengatur periode kepemilikan investasi di SBI selama minimum 1 bulan, sebelum dapat diperjualbelikan kembali di pasar sekunder. Pengaturan ini diterapkan untuk investor lokal mau pun asing. Dan, reaksi pun bermunculan dari para ekonom yang kurang setuju mengenai kebijakan BI dimaksud, antara lain seperti, “Limitasi 1 bulan tersebut tidak ada gunanya. SBI itu untuk stabilisasi moneter. Jadi seharusnya seluruh kepemilikan asing dilarang dalam bentuk apa pun atas SBI tersebut. Mengapa BI harus takut?” (komentar salah satu Ekonom pada harian Media Indonesia, 20 Juni 2010).

Takut? Benarkah begitu?

Saya punya teman, dan kami telah berteman selama 12 tahun lamanya (untuk para pembaca, you should note bahwa artikel ini bukan mengenai umur kami, so please be focused.. ;P). Saya ingat, ketika saya berusia 14-15 tahun, teman saya ini mengenalkan kepada Billiard. Kami sering berkelana ke beberapa Billiard Pool untuk menjajal kemampuan ber-billiard kami. Tapi ya, karena memang teman saya itu berbakat (dan saya tidak), dia mulai menjajal kemampuannya dengan lebih maksimal. Sayangnya, dia berjudi melalui permainan Billiard itu (berjudi untuk Billiard, dan spekulasi untuk bisnis keuangan, mind your own language.. ;P), karena dia benar-benar mengharapkan bayaran uang dari pihak yang dikalahkannya. Nasehat saya (For God sakes! Dia itu bahkan bukan Tom Cruise atau Paul Newman dalam ‘Colour of the Money’) untuk mengembalikannya ke jalan yang benar hanya berlalu bagai angin semusim.

Lantas, Ayahnya yang tahu mengenai hal ini langsung murka sebesar-besarnya, dan melarang teman saya untuk memiliki ‘hubungan’ apa pun dengan permainan yang bernama Billiard tersebut. Uang jajannya dipotong, dan ‘pengamanan’ ditingkatkan agar teman saya itu ‘menghapus’ Billiard dari otaknya. Berhasilkah cara itu? Nyatanya, justru teman saya itu malah makin menggila. Dia berbohong kepada ayahnya, berjudi melalui Billiard dengan intensitas yang lebih parah dari sebelumnya. Drama ini benar-benar mencapai puncaknya ketika pihak sekolah kami menangkap basah dirinya, meninggalkan rasa malu yang teramat besar bagi si Ayahnya.

Setelah kejadian itu, ayahnya mulai melunak. Ayahnya tetap memberikan kesempatan dia untuk bermain Billiard secara benar, tidak melarangnya berjudi secara terang-terangan, namun mengurangi porsi berjudinya, hingga akhirnya teman saya itu benar-benar merasakan kepuasan bermain Billiard tanpa berjudi (ayahnya sempat mengikutsertakan teman saya itu di Kompetisi Billiard Amatir). Secara bertahap, harus saya akui bahwa cara ini berhasil. Terakhir yang saya ketahui, teman saya itu tidak ketagihan lagi berjudi dalam permainan Billiard (tidak ketagihan, bukan berarti tidak sama sekali, tapi setidaknya jauh lebih baik dari kondisi sebelumnya).

Sebagaimana menjinakkan perilaku berjudi teman saya di atas, maka menjinakkan perilaku spekulator keuangan pun juga harus dilakukan dengan cara yang strategis. Perlu terdapat upaya untuk menghindari aksi para spekulator pada ‘lapangan’ lainnya yang dikhawatirkan akan berdampak buruk terhadap inflasi, terutama bila mengacaukan (screw) ketersediaan cadangan devisa. Dengan demikian, kebijakan untuk ‘menahan kepemilikan SBI minimum 1 bulan’ ini sepertinya masih layak untuk dicoba. Apalagi mengingat bahwa kondisi makroekonomi Indonesia juga tidak begitu menggembirakan, seperti tingkat inflasi tengah tahun (5,05% di Juni 2010, dengan target tahunan 5,7%), kemungkinan kenaikan harga akibat kebijakan pemerintah yang menaikkan Tarif Dasar Listrik (TDL), dan kelanjutan musim siklikal seperti Idul Fitri, Natal dan Tahun Baru, serta Tahun Ajaran Baru di bulan Juni dan Juli 2010.

Menurut inilah.com (16 Juni 2010), BI masih yakin bahwa berdasarkan perspektif ekonomi yang luas, peran dana asing dalam SBI belum memiliki pengaruh yang signifikan dalam fundamental ekonomi, dan juga diduga tidak akan mengganggu kebijakan makroekonomi yang ada. Terdapat banyak fakta bahwa kondisi makroekonomi masih dipengaruhi (namun tidak terbatas) oleh harga dari energi dasar seperti BBM bersubsidi, tarif air dan listrik. Penempatan dana asing di SBI tersebut diindikasikan berpengaruh terhadap investment grading Indonesia. Dan, berdasarkan pengukuran di bulan Juni 2010, penempatan dana asing di SBI adalah sekitar Rp33 Triliun, dari jumlah keseluruhan dana di SBI sebesar Rp270 Triliun (sekitar 12,22%).

Bila Shakespeare sang pujangga Inggris terkenal itu mewujudkan ekspresi melalui lakon karyanya yang berjudul “Taming of the Shrew”, maka BI pun juga dapat mewujudkan ekspresinya melalui “Taming of the Screw” dalam pengaturan operasionalisasi SBI untuk saat ini.. ;P

PS: To my old friend, pengen juga main Billiard bareng lagi, but please don’t laugh at my skill now, since those golden years have passed me by.. ;P


(The English Version)

Foreign Funds in BI-Bills: “The Taming of the Screw”

Certainly, Bank Indonesia (BI) Bills (BI-Bills or SBI) is the financial instrument which intended to regulate the stability of monetary system in Indonesia. On the other hand, the speculators, especially the foreigners, utilize that instrument to fulfill its profitability requirement, and obtain such instrument from any secondary market whenever they feel it can provide them a fine return with the optimum purchasing price. BI has fully realized this condition was originated from inexistence of regulation regarding such limitation for the foreigner speculators who want to obtain BI-Bills. And as the final result, starting from the date of 7 July 2010, BI has decided to set the period for the investors to hold their investment of BI-Bills for minimum of 1 month, before it can be secondary marketed again. This regulation is applied to all investors, both local and foreign. Thus, there were many Economists who said negatively about this circumstance, as stated by one among of those opinions, “The holding period of one month is useless. BI-Bills should be the instrument to regulate national monetary system, and as a result, BI should FORBID all foreign funds employ themselves in such instrument. Why must BI be terrified of that?” (taken from Media Indonesia-The Daily Newspaper, 20 Juni 2010).

Terrified? Is it really like that?

I have a friend, and he has been my friend since we were 12 years old (to all readers, you should note that this article is not about our age, so please be focused.. ;p). I remembered, when we were around 14-15 years old, he introduced me to the game of Billiard. We always tried our skill from one pool house into another. But, since he was really talented in such skill, he began to explore about it more than I've ever imagined. He began to be the gambler (gambler for snooker, and speculator for financial businessman, minding your own language.. ;P) since he played that game in the motivation of acquiring the money from the losers. I didn't follow him, off course, only advising him for not doing that (for God sakes! I told him that he was not even a Tom Cruise nor Paul Newman in 'Colour of The Money'). Also, it was useless since he ignored my advise completely.

Then, when his father knew about this, the normal reaction from him was getting angry and forbade my friend to play anything to do with billiard! His father did cut his allowance and created so many limitations that eliminated his chance to play any game related to Billiard. Was it useful? In fact, my friend was getting more mad. He lied to his father, playing hide and seek with him, and being the gambler more badly than before. It ended when he has been caught by the school authority, and it left a big embarrassment to his father.

After that incident, I knew that his father treated him in a proper way. He gave him a chance to play billiard in a proper way, and didn't forbid him to gamble, but just decreasing the portion of such gambling, until at last he could find the satisfaction of playing the game of billiard without any gambling motivation (his father also encouraged my friend to got involve in a snooker competition). Step by step, and I must tell you that it worked out. The last time I know, he was not addicted to snooker gambling anymore (not addicted, doesn't mean that it was eliminated, but it's more than fine compare to his condition before).

As taming my friend's habit in gambling above, taming a speculators should be done also in a strategic way. There has to be an avoidance of any unpredictable actions from those foreign speculators in another field and fetch the worst impact on the inflation rates, especially when it comes to screw the foreign exchange reserves surprisingly. Therefore, keeping the chance for the foreign speculators to locate their funds (even just for one month) is still the worth possibility to try. Not to mention that fiscal macroeconomics condition is not in a pleasant way, such as mid year inflation rate (5,05 persen on June 2010, with the yearly targeting of 5,7 persen), the possibility of any additional price increasing based on the government policy to set the higher basic electricity tarrifs (TDL), and the continuance of high inflation based on the cyclical seasons from Idul Fitri (region festive for Muslims), Christmas and New Year, and also the beginning year of the school program on June and July 2010.

According to inilah.com (June 16, 2010), BI also still has a confidence that based on the wide economics perspective, the role of foreign funds in BI-Bills does not have a significant impact to the fundamental of economics, and thus it won’t distort any macroeconomics policy. There are so many facts that the macroeconomics in Indonesia is persuaded by the price of such basic energy such as subsidized fuel, water and electricity, and not by the flow of the funds from the speculators. The foreign funds in BI Bills is indicated to have influence on investment grading of Indonesia, which not absolutely have a significant correlation with the prospect or current result of such investments. Based on the measurement to the month of June 2010, the foreign funds in BI-Bills was just about IDR 33 Trillion from the total sum amount of IDR 270 Trillion (around 12,22%).

Should Shakespeare, the famous British Literature Writer expressed himself in his play “Taming of The Shrew”, then BI could express itself with 'Taming of The Screw' in the business of the BI-bills for a time being.. ;P

PS: To my dearest friend, I'd really want to play billiard again with you sometimes, but please don’t laugh at my skill now, since those golden years have passed me by.. :P

About me..

Foto saya
I've been passing time watching trains go by.. All of my life, lying on the sand watching seabirds fly.. wishing there would be, someone's waiting home for me..