I’m free to create a new term. It’s a free country, isn’t it? :P
Let us start with the definition. Economy is a study which subject to the behaviour of a human creatures to fullfill their needs by a scarcity of resources, while contagious is a tendency to spread anything from one person to another..
And the combination of them? It’s called.. CONTAGIONOMICS!
It all begun with the biggest change in my life. From a single guy, who always thought about three things (myself, myself.. and myself only.. ;P), and suddenly right now those three things change into myself, my wife (can I say Wives? Hey Honey, don’t look at me like that! :P) and my kids (or the future ones), and we’re all living in a our own new-small-and-far-from-big-but-it-is-OK home. And, such change creates a very biggest problem in finding the most precious treasure on earth..
THE FULLY HOUSE MAID!
And, what does it have to do with Contagionomics?
Well, please look at these two cases:
1st case:
In honoring the theory of recommendation, I contacted my mom’s maid (let’s call her.. Mbak). Mbak has been working to us for 7 years. She directly contacted her nephew of 17 Years old in Salatiga (a small town in Central Java) and asked her to work for me. Then, her nephew rejected our offer. She just wants to be a worker in a factory around her neighborhood. We had a chance to argue her by phone. We offered her a salary of RpX (sorry, I really have to keep this in a secret, in order to keep my bargaining power.. ;p) by realizing that the factory offer her of 1.3 times than RpX. But, we also revealed such facts that she doesn’t need to spend money for her own meal and the other groceries needs, not to mention that we will cover her medical expenses, fully. In a short, we offered many things that she has to fulfill by her own should she choose to work in factory. At the end, I ended my argumentation by a conclusion that we offer greater NET annual income than the factory does. So, what did she say?
“I just wanted to work in a factory even I know that job can’t offer the things as good as you’ve offered. But, I need to work around my hometown, like most of my friend. And, I still need to socialize with them, to keep up date with them, and also I just want to have a job like them who works from 9 to 5, the working hours that I’M DEFINETLY SURE you can offer to me should I accept the job as your fully house maid..”
Girl, I’m sorry to tell you that you’ve been the victim of ‘Contagionomics’. Please blame your ‘contagious’ friend.. ;P
2nd case:
Failing in persuading her nephew, Mbak moved into someone else. Still, around her hometown. And, she got a candidate, her relatives, a woman of 18 years old. At the first time, she said yes to our offer. We smiled, but later on the smile didn’t last long when she contacted us two days after, “I’m going to Jeddah and will have a job as TKI (TKI is a term of Indonesian Expatriate who operates in a third or fourth class job there)”. To my surprise, I also argued her stands with the Spirit of 45! I told her that the risk of working there is big, not to mention it is also far away from her homeland. You know what she said? “You have to face the risk to have big return, Sir.. High risk, high return..” Was she trying to mock me? I didn’t care. I didn’t stop until that. I also argued that even the salary offered is big around there, I told her the fact that life economic index will reduce her salary and she has just nothing much to be saved for building her life in her hometown for the future. Did she give up to me? No! In fact, she continued:
“My neighbor works there too. She said, she just could save around 50% of her annual salary, but she can afford to build a nice house and owning two motorcycles for her brothers. I’ve been told by her that the value of our currency is weak, therefore you have to work more than 10 years in Indonesia to have a house and the other assets you dream about. But, working as TKI gives you a benefit of saving by using that currency advantages. Not more than 2-3 years, you can have such things, and after that, is up to me, will I continue my adventure there, or should I stop and come back to Indonesia? Oh, by the way, Sir, the life index in Arabia is not as big as you described. Big Mac is only USD2, and I got the net monthly salary of USD700. If I’m working in Indonesia, how much will I have as a starter? I’ll bet it will be not more than Rp700.000 a month, and the Big Mac is around Rp20.000 here. So, will you say yes to the salary of 35 Big Mac and say no to the salary of 350 Big Mac? I don’t think so… (note: Read this by imagining Mac Culkin said it in ‘Home Alone 1’).”
This girl, she doesn’t need to go to Harvard or Oxford to tell me about the concept of high risk high return or Big Mac Index or Currency Economics. All she needs to do is listening to her ‘contagious’ friend and follow her in return. And, here comes the 2nd victim of Contagionomics.. ;P
I haven’t got any fully house maid yet, and still doing every house hold works by our own (off course, my wife is also with me, for better or worse ;P). Any help that you can offer? Anyone?
All of sudden, I remembered, when I was accepted to work in this institution, my relatives said, “It’s a good place, I envy you.” I just smiled and said, “You can’t say anything now. Let’s take a look for the next three years or more.” So, after those longing years, my relatives looked at myself. They looked at my achievement in having such assets (the ethical codes suggested me not to reveal truthfully about those assets in details here.. sorry.. :P), and said, “Mas, how could we apply to your office? Do our Bachelor Subjects suit with your office’s requirement? I want to work in your institution. Please tell us and give any directions of how we should do that.”
My oh my, I’ve just realized that I’m the agent of ‘Contagionomics’ too..
You can run.. but you can’t hide..
;P
Rabu, 23 Juni 2010
Kamis, 17 Juni 2010
Kesan Pertama Begitu Menggoda.. Selanjutnya?
Kesan pertama? Maksudnya?
Ide tentang OJK ini pertama kali muncul di era pemerintahan BJ Habibie, yang ketika itu memberikan status independen kepada Bank Indonesia (BI) sebagai bank sentral Indonesia, sesuai dengan ide konsultan ekonomi yang disewa beliau dari Jerman pada saat itu. Ide ini juga memberikan konsekuensi untuk memangkas kewenangan BI di dalam melakukan fungsi pengawasan perbankan untuk diberikan kepada OJK, dengan maksud agar BI lebih independen dalam bergerak di sektor moneter tanpa dipengaruhi oleh hal-hal subyektif yang mungkin muncul dari aktivitas pengawasan perbankan. Singkat kata, OJK adalah gagasan untuk menciptakan pengawasan bank dengan kondisi yang mendekati ideal.
Hmm.. bukankah kesan pertama dari OJK itu terasa begitu menggoda?
Tak dapat dipungkiri bahwa saat ini perbankan berkembang menjadi suatu bisnis yang terkadang cukup sulit untuk dipisahkan dengan bisnis keuangan non-perbankan lainnya. Suatu Bank bisa saja memasarkan produk Asuransi yang disisipkan melalui produk perbankan (bancassurance), sekaligus memiliki anak perusahaan yang bergerak di bidang sekuritas/investasi. Beberapa pihak berpendapat bahwa pengawasan bisnis bank oleh BI, pengawasan bisnis sekuritas oleh Bapepam, dan pengawasan bisnis asuransi oleh DJLK (Direktorat Jenderal Lembaga Keuangan) seharusnya lebih efektif bila dilakukan oleh satu institusi saja dan tidak dilakukan secara terpisah.
Hmm.. bukankah kesan pertama dari OJK itu terasa semakin menggoda?
Pertanyaan yang muncul kemudian adalah, apakah strategi pengawasan perbankan yang seyogyanya dilakukan oleh lembaga lain terpisah dari Bank Sentral tersebut sudah tepat untuk diterapkan di Indonesia?
Skandal Bank Century yang penuh dengan misteri (yang jauh lebih seru bila dibandingkan dengan cerita-cerita misteri versi Agatha Christie) menjadi tudingan dari beberapa pihak (baik yang idealis, utopis, mau pun yang bersifat sarkatis dan oportunis) untuk segera menyingkirkan fungsi pengawasan perbankan dari BI. Mereka beranggapan bahwa fungsi pengawasan perbankan akan lebih obyektif dan dapat dikelola dengan good governance bila dilakukan oleh pihak lain selain bank sentral. Benarkah demikian? Walau frekuensi terjadinya belumlah tergolong signifikan, pemisahan fungsi pengawasan perbankan dari bank sentral kepada FSA (Financial Services Agency, semacam OJK di Jepang) masih menyisakan kasus kebangkrutan Long-Term Credit Bank dan Nippon Credit Bank di Jepang yang di kemudian hari terbukti merekayasa pembukuannya (The Economist, 30 August 2003).
Selain itu, bila mengamati posisi laporan rugi-laba dalam laporan keuangan beberapa bank umum di Indonesia, umumnya porsi pendapatan bank yang berasal dari penanaman di SBI (Sertifikat Bank Indonesia, perangkat finansial yang digunakan untuk fungsi stabilitas moneter) masih memiliki porsi yang equal bahkan lebih besar dari porsi pendapatan yang berasal dari operasional bank itu sendiri (baik dari penyaluran kredit mau pun jasa-jasa perbankan lainnya). Hal ini menunjukkan bahwa kontrol BI secara langsung kepada bank-bank tersebut masih diperlukan agar SBI tidak disalahgunakan oleh bisnis perbankan sebagai perangkat yang profitabel.
Lagipula, berkaca kepada kondisi ekonomi negara kita yang masih memerlukan dana untuk membangun sarana dan prasarana secara merata demi kemakmuran rakyat dan meminimalisasi tingkat kemiskinan nasional, anggaran dana berjumlah besar yang akan digunakan untuk membentuk OJK menjadi suatu issue tersendiri yang patut dicermati melalui analisis cost-benefit dengan berbagai asumsi yang rasional. Sebagai informasi, menurut berita yang dilansir DetikFinance (2 Februari 2010) terdapat wacana bahwa DPR bermaksud untuk mengadakan studi banding ke luar negeri demi mempelajari hal-ikhwal OJK ini dalam kurun waktu kurang lebih selama 3 (tiga) bulan. Mudah-mudahan proyek studi banding OJK yang direncanakan ini benar-benar berbeda dengan proyek Phileas Fogg dalam novel Jules Verne, “Around the World in 80 Days”.
Jadi, setelah membaca beberapa kritisasi mengenai OJK yang telah uraikan dalam tulisan ini, apakah sebaiknya langkah pembentukan OJK di Indonesia tetap dilakukan? Ataukah sebaiknya dihentikan dan mengubah/mengamandemen Undang-Undang (UU) yang berlaku (UU BI No. 3 tahun 2004, yang mengamanatkan pembentukan OJK selambat-lambatnya pada akhir tahun 2010)?
Menurut pendapat saya pribadi, bagaimana pun juga ide pemisahan fungsi pengawasan tersebut cukup ideal dan menarik untuk dilakukan. Kita tidak akan pernah bisa menerka mengenai keandalan ide tersebut tanpa pernah mencobanya. Saya adalah termasuk segelintir pribadi yang ingin melakukan eksperimen untuk mencoba sistem pengawasan perbankan di bawah OJK, termasuk juga untuk memuaskan rasa dahaga berbagai kritikus BI yang berulang kali (melebihi frekuensi adzan sholat lima waktu per hari sepertinya) mengumandangkan kebrobokan pengawasan bank oleh BI (yang tidak sepenuhnya selalu benar).
Tentunya, bila terjadi pemindahan pengawasan bank dari BI kepada OJK, maka terdapat beberapa hal berikut yang harus diperhatikan:
Pertama, OJK tetap harus memberikan kesempatan kepada BI untuk tetap dapat mengakses informasi pengawasan bank agar BI tetap dapat menjalankan fungsinya sebagai lender of the last resort. Seperti yang pernah diungkapkan oleh Paul Volker (mantan chairman dari Federal Reserve US), kebijakan moneter tidak dapat dilakukan dengan baik apabila bank sentral kehilangan perannya dalam mengawasi sektor perbankan.
Kedua, Komposisi kepegawaian OJK seyogyanya menyertakan sebagian pegawai BI yang berasal dari sektor pengawasan perbankan sebelumnya. Mengingat bahwa OJK ini pasti akan dipenuhi dengan nuansa politis yang kental, maka BI harus memikirkan kemungkinan untuk melakukan program exit policy yang sangat solutif bagi para karyawannya bila OJK tidak memberikan kesempatan kepada pegawai BI untuk bergabung didalamnya.
Andai toh ternyata OJK tidak membawa hasil sebagaimana yang diharapkan, anggaplah kegagalan tersebut sebagai cost dari pelajaran yang sangat berharga (learning by trial and error) untuk kemudian mengembalikan fungsi pengawasan perbankan tersebut kepada BI (dan boleh juga sekali atau dua kali kita mengatakan kepada para penggagas OJK, “See, what have I told you?”).
Kesan pertama memang begitu menggoda, namun selanjutnya tetap terserah Anda..
Salam..
Ide tentang OJK ini pertama kali muncul di era pemerintahan BJ Habibie, yang ketika itu memberikan status independen kepada Bank Indonesia (BI) sebagai bank sentral Indonesia, sesuai dengan ide konsultan ekonomi yang disewa beliau dari Jerman pada saat itu. Ide ini juga memberikan konsekuensi untuk memangkas kewenangan BI di dalam melakukan fungsi pengawasan perbankan untuk diberikan kepada OJK, dengan maksud agar BI lebih independen dalam bergerak di sektor moneter tanpa dipengaruhi oleh hal-hal subyektif yang mungkin muncul dari aktivitas pengawasan perbankan. Singkat kata, OJK adalah gagasan untuk menciptakan pengawasan bank dengan kondisi yang mendekati ideal.Hmm.. bukankah kesan pertama dari OJK itu terasa begitu menggoda?
Tak dapat dipungkiri bahwa saat ini perbankan berkembang menjadi suatu bisnis yang terkadang cukup sulit untuk dipisahkan dengan bisnis keuangan non-perbankan lainnya. Suatu Bank bisa saja memasarkan produk Asuransi yang disisipkan melalui produk perbankan (bancassurance), sekaligus memiliki anak perusahaan yang bergerak di bidang sekuritas/investasi. Beberapa pihak berpendapat bahwa pengawasan bisnis bank oleh BI, pengawasan bisnis sekuritas oleh Bapepam, dan pengawasan bisnis asuransi oleh DJLK (Direktorat Jenderal Lembaga Keuangan) seharusnya lebih efektif bila dilakukan oleh satu institusi saja dan tidak dilakukan secara terpisah.
Hmm.. bukankah kesan pertama dari OJK itu terasa semakin menggoda?
Pertanyaan yang muncul kemudian adalah, apakah strategi pengawasan perbankan yang seyogyanya dilakukan oleh lembaga lain terpisah dari Bank Sentral tersebut sudah tepat untuk diterapkan di Indonesia?
Skandal Bank Century yang penuh dengan misteri (yang jauh lebih seru bila dibandingkan dengan cerita-cerita misteri versi Agatha Christie) menjadi tudingan dari beberapa pihak (baik yang idealis, utopis, mau pun yang bersifat sarkatis dan oportunis) untuk segera menyingkirkan fungsi pengawasan perbankan dari BI. Mereka beranggapan bahwa fungsi pengawasan perbankan akan lebih obyektif dan dapat dikelola dengan good governance bila dilakukan oleh pihak lain selain bank sentral. Benarkah demikian? Walau frekuensi terjadinya belumlah tergolong signifikan, pemisahan fungsi pengawasan perbankan dari bank sentral kepada FSA (Financial Services Agency, semacam OJK di Jepang) masih menyisakan kasus kebangkrutan Long-Term Credit Bank dan Nippon Credit Bank di Jepang yang di kemudian hari terbukti merekayasa pembukuannya (The Economist, 30 August 2003).Selain itu, bila mengamati posisi laporan rugi-laba dalam laporan keuangan beberapa bank umum di Indonesia, umumnya porsi pendapatan bank yang berasal dari penanaman di SBI (Sertifikat Bank Indonesia, perangkat finansial yang digunakan untuk fungsi stabilitas moneter) masih memiliki porsi yang equal bahkan lebih besar dari porsi pendapatan yang berasal dari operasional bank itu sendiri (baik dari penyaluran kredit mau pun jasa-jasa perbankan lainnya). Hal ini menunjukkan bahwa kontrol BI secara langsung kepada bank-bank tersebut masih diperlukan agar SBI tidak disalahgunakan oleh bisnis perbankan sebagai perangkat yang profitabel.
Lagipula, berkaca kepada kondisi ekonomi negara kita yang masih memerlukan dana untuk membangun sarana dan prasarana secara merata demi kemakmuran rakyat dan meminimalisasi tingkat kemiskinan nasional, anggaran dana berjumlah besar yang akan digunakan untuk membentuk OJK menjadi suatu issue tersendiri yang patut dicermati melalui analisis cost-benefit dengan berbagai asumsi yang rasional. Sebagai informasi, menurut berita yang dilansir DetikFinance (2 Februari 2010) terdapat wacana bahwa DPR bermaksud untuk mengadakan studi banding ke luar negeri demi mempelajari hal-ikhwal OJK ini dalam kurun waktu kurang lebih selama 3 (tiga) bulan. Mudah-mudahan proyek studi banding OJK yang direncanakan ini benar-benar berbeda dengan proyek Phileas Fogg dalam novel Jules Verne, “Around the World in 80 Days”.Jadi, setelah membaca beberapa kritisasi mengenai OJK yang telah uraikan dalam tulisan ini, apakah sebaiknya langkah pembentukan OJK di Indonesia tetap dilakukan? Ataukah sebaiknya dihentikan dan mengubah/mengamandemen Undang-Undang (UU) yang berlaku (UU BI No. 3 tahun 2004, yang mengamanatkan pembentukan OJK selambat-lambatnya pada akhir tahun 2010)?
Menurut pendapat saya pribadi, bagaimana pun juga ide pemisahan fungsi pengawasan tersebut cukup ideal dan menarik untuk dilakukan. Kita tidak akan pernah bisa menerka mengenai keandalan ide tersebut tanpa pernah mencobanya. Saya adalah termasuk segelintir pribadi yang ingin melakukan eksperimen untuk mencoba sistem pengawasan perbankan di bawah OJK, termasuk juga untuk memuaskan rasa dahaga berbagai kritikus BI yang berulang kali (melebihi frekuensi adzan sholat lima waktu per hari sepertinya) mengumandangkan kebrobokan pengawasan bank oleh BI (yang tidak sepenuhnya selalu benar).
Tentunya, bila terjadi pemindahan pengawasan bank dari BI kepada OJK, maka terdapat beberapa hal berikut yang harus diperhatikan:
Pertama, OJK tetap harus memberikan kesempatan kepada BI untuk tetap dapat mengakses informasi pengawasan bank agar BI tetap dapat menjalankan fungsinya sebagai lender of the last resort. Seperti yang pernah diungkapkan oleh Paul Volker (mantan chairman dari Federal Reserve US), kebijakan moneter tidak dapat dilakukan dengan baik apabila bank sentral kehilangan perannya dalam mengawasi sektor perbankan.
Kedua, Komposisi kepegawaian OJK seyogyanya menyertakan sebagian pegawai BI yang berasal dari sektor pengawasan perbankan sebelumnya. Mengingat bahwa OJK ini pasti akan dipenuhi dengan nuansa politis yang kental, maka BI harus memikirkan kemungkinan untuk melakukan program exit policy yang sangat solutif bagi para karyawannya bila OJK tidak memberikan kesempatan kepada pegawai BI untuk bergabung didalamnya.
Andai toh ternyata OJK tidak membawa hasil sebagaimana yang diharapkan, anggaplah kegagalan tersebut sebagai cost dari pelajaran yang sangat berharga (learning by trial and error) untuk kemudian mengembalikan fungsi pengawasan perbankan tersebut kepada BI (dan boleh juga sekali atau dua kali kita mengatakan kepada para penggagas OJK, “See, what have I told you?”).
Kesan pertama memang begitu menggoda, namun selanjutnya tetap terserah Anda..
Salam..
Rabu, 23 Desember 2009
Memories of 2009 (1): Do You Believe in Good Luck? I Do..
Well, tahun 2009 ini benar-benar mengajarkan kepada saya untuk percaya kepada nasib baik. Good Luck, istilahnya begitu. Bukannya saya tidak percaya kepada konsep kerja keras. Oho, bukan.. bukan itu. Saya percaya bahwa orang harus bekerja keras untuk mendapatkan segala sesuatu yang baik dalam hidup ini. Tapi rasanya, seberapa pun Anda bekerja keras, kalau memang nasib baik itu belum datang kepada Anda, ya, Anda tidak akan mungkin bisa mendapatkan keberhasilan yang Anda idam-idam-kan..
Itu kata saya looohh.. Hehehe.. Saya kan ga tau, siapa tahu orang lain memiliki pengalaman yang lain daripada yang saya alami. Soalnya, pengalaman saya tahun ini justru mengajarkan kepada saya untuk jangan terlalu takabur, jangan terlalu sombong. Bila Anda merasa bahwa Anda sudah merasa bekerja keras, maka Anda berhak untuk mendapatkan hasil baik, dan bila tidak ada hasil baik datang kepada Anda, maka Anda akan mencari kambing hitam dan memporak-porandakan isi dunia serta menyalahkan alam semesta beserta seluruh isinya karena tidak mendukung keberhasilan Anda.. hehehe.. Itu namanya Sombong, Kawan.. Itu berarti Anda merasa bahwa Anda yang terhebat.. dan Anda tidak percaya bahwa segala sesuatunya telah diatur oleh Yang Maha Kuasa melalui.. good luck..
Well..
Misalnya nih..
Bulan Januari kemaren.. saya benar-benar BETE. Mungkin barangkali karena pengaturan struktur organisasi di tempat saya bekerja membuat saya menjadi OB (offiz boy) satu-satunya, yang berarti seluruh pekerjaan admin jatuh ke tangan saya. Ketambahan, saya dengar bahwa ada Mgr yang lagi nafsu-nafsunya meng-gol-kan proyek yang bernama AK, dan itu bakalan menyita keberadaan saya dan meng-hold saya untuk tidak melakukan pekerjaan reguler apa pun! Itu membuat saya BETE! Karena, pada dasarnya saya menyukai pekerjaan reguler yang terkait dengan travelling. Di-hold-nya saya gara-gara proyek AK itu membuat saya terhalang untuk travelling! Dan itu membuat saya benar-benar MURKA! Hehehe.. Murka banget deh..
Banyak yang bilang, terpilih di AK itu berarti dipercaya secara kualitas pekerjaan. Tapi ya, what the hell with that! Saya tidak minta terpilih! Lagian saya juga yakin bahwa secara kualitas saya gitu-gitu aja kok, ga hebat.. walo mudah-mudahan juga ya ga loyo loyo amat sih. Ya tapi sudahlah.. saya pasrah.. Andai tidak ada proyek travelling ke luar kota selama tahun ini gara-gara proyek AK, saya akan mencoba untuk pasrah, sepasrah-pasrahnya. Di tengah kepasrahan tersebut, tiba-tiba.. saya terpilih mengikuti proyek ke Ambon! My oh my.. saya belum pernah melihat Ambon. Dan rasanya, kalo saya pergi atas biaya sendiri ke Ambon, hmm.. ogah kali.. hehehe.. Mending ke Spore.. toh biayanya juga sama. Dan, dulu tahun 2005, saya pernah hampir ke Ambon, tapi digagalkan oleh Oknum Setan (sorry, tapi Mgr yg udah pensiun ini bener-bener SETAN kelakuannya.. God, forgive me for saying this). Dan tiba-tiba tanpa dinyana-nyana, saya yang terpilih untuk ke Ambon? Padahal ketua proyeknya adalah orang (yang saya tahu dari sumber-sumber sekunder yang sangat dipercaya) yang sangat meragukan kemampuan saya dan selalu memandang sebelah mata terhadap saya (karena menganggap My Big Mama pilih kasih dengan memberikan keistimewaan terhadap saya). Even saya bukan preference dari si head of project.. toh.. saya tetep melenggang kangkung ke Ambon selama 2 weeks.. Akhirnya.. saya liat Ambon juga, yang pemandangannya memang indah nian itu.. (walo kerja di sana sampai malem-malem, setengah-setengah tersiksa karena head of project yang ritme kerjanya menekan saya sekali, dan sempat sakit pilek berat, walo sembuh juga dalam waktu cepat). Not to mention.. di hotel.. saya sempat lihat Siaran Tunda StarMovies, ACADEMY AWARD 2008!
Well, isn't it good luck?
Saya adalah orang yang paling malas untuk berpikir mengenai nilai kerja. Haduh, membicarakannya pun langsung alergi. Soalnya, saya merasa bingung kalo harus menilai diri sendiri, berapa nilai yang pantas saya dapatkan? Maka dari itu, ketika tiba waktu penilaian kinerja ini, saya hanya bisa berdoa, supaya apa pun hasilnya, berikan saya keikhlasan untuk menerimanya. Dan, saya sudah menyiapkan yang terburuk untuk itu. Coba, tiba-tiba nilai keluar, dan saya mendapatkan 80% of the top! Bayangkan! 80% of the top! The highest among my colleagues! Tentunya dong, saya yang sudah tidak PD dengan nilai yang saya dapatkan itu, kembali ditikam oleh pihak-pihak yang tidak ikhlas. Waduh, benar-benar deh, masa-masa itu, perih banget kalo diinget-inget. Tikaman-tikaman yang ditujukan kepada saya sudah tanpa tedeng aling-aling lagi. Yang membuat saya merasa tidak nyaman, dan percaya bahwa mungkin jangan-jangan itu adalah cobaan. Dan, yang saya heran, kok juga kenapa penikam-penikam yang saya lihat adalah pekerja-pekerja keras (menurut saya loh, saya tidak tahu penilaian menurut pimpinan, atau mungkin menurut Tuhan) tidak berhasil mendapatkan penilaian 80% seperti saya? Walau leveling kebijakan kita memang berlainan sih.
Well, isn't it a good luck?
Yang paling tob markotob di tahun ini, di luar dugaan, saya dikirim oleh kantor untuk dinas ke Frankfurt! Dan saya diijinkan untuk liburan ke Paris dari Frankfurt tersebut! Padahal, kalau dipikir-pikir lagi, bisa saja seniority berperan dalam hal ini, dan mengambil jatah dinas saya. Dan, saya juga bukan pegawai yang handal sekali. Maksud saya, tidak ada satu point istimewa yang benar-benar dapat memutlakkan saya untuk ikut Seminar Bundesbank ke Frankfurt tersebut. But, tiba-tiba saja saya berada di atas pesawat Etihad Airline, transit di Dubai, berada di Frankfurt selama seminggu, berkenalan dengan orang-orang dari berbagai negara dunia ketiga sesama peserta seminar (rumpi-rumpi, diskusi ilmiah, gossip-gossip.. hihihihi), dan kemudian scene beralih ke menara Eiffel! Arch de Triomph! Louvre! Ke Paris dengan biaya yang cukup ekonomis, karena menumpang 'dinas'..
Well, isn't it a good luck?
Proyek AK yang dijanjikan selama setahun ini juga terpaksa harus saya ikuti dengan ikhlas. Dan, seperti cobaan tiada henti-hentinya untuk melanda proyek AK.. tepatnya sih saya.. hihihihi.. Soalnya proyek AK ini juga jadi sasaran empuk bagi penikam-penikam. Huadduuhh, kalau diingat-ingat lagi, air mata sudah kering untuk menangis. Komen-komen yang menyakitkan, "Apa iya bisa ya? Proyek AK untuk Sektor Pb? Yakin? Punya kemampuan untuk itu?" Belum lagi pada saat pemilihan topik, "Yaelah, itu mah kegampangaaaannn.." Melihat ketua proyek AK yang sudah sakit kepala karena di-remeh-kan oleh beberapa penikam (tapi saya benar-benar ikhlas membantu beliau luar dalam, sungguh, I dedicate my life for him.. mudah-mudahan dia terbantu oleh saya), saya langsung ambil posisi, "UDAH! NGAPAIN PAKE MINTA BANTUAN KE PENIKAM? KAYAK KITA GA BISA MIKIR SENDIRI AJA?! UDAH, KITA PILIH AJA TOPIK TENTANG TL!" Yup.. topik tentang TL yang kita pilih ini, masih juga dianggap remeh oleh banyak orang, termasuk penikam. But guess what? Di bulan November ini, kita bertemu dengan pemrakarsa ketentuan, dan dia SANGAT MENGGAPRAISE PROYEK TL KITA INI! "Wah, kita malah gak terpikir sebelumnya ke situ. Padahal itu penting loh" Sumpe, idung ini kembang kempes ngedengernyeee! Hehehe.. Belum lagi, di sampel proyek TL terakhir, bertemu dengan pimpinan KBIB, buset! Itu benar-benar seperti bertemu the Devil from Hell! Diawali dengan Entri Meeting yang MENGINJAK saya (karena cuma saya yang hadir di situ dari perwakilan proyek TL) ke liang kubur, sampai ketika exit meeting, justru beliau yang HIGHLY APPRAISE terhadap proyek TL ini! Appraise yang tidak pernah didapatkan di negeri sendiri bo!
Well, isn't a good luck?
Oya, sehubungan dengan proyek TL ini.. banyak yang bikin sakit hati juga. Misalnya nih ya.. my own AM.. Bayangin.. MY OWN AM! Ketika mau dinas ke KBIS.. ikut campur dengan memilih the Lady ikut ke KBIS.. mewakili proyek TL! Bayangin tuh! Kenapa juga dia gak milih OB-nya sendiri? Saya gitu misalnya? Emangnya segitu bodohnya saya kah? Walo saya sempet merasa, bahwa ini juga dipengaruhi oleh 'good luck' saya dalam mendapatkan 80% of the top. Hmm.. tentu itu membuat banyak penikam sirik, dan my own AM yang juga saya rasa sirik, atau apa lah, tentunya meng-out-kan saya demi si Lady. Ya ga pa pa. Toh, karena out of KBIS, saya jadi bisa nonton Twilight Orchestra di DjakTh Ballroom yang menurut saya adalah konser termengesankan yang pernah saya saksikan! Dan saya mensyukuri habis-habisan karena saya tidak perlu ke KBIS! Dan, begitu pula dengan proyek KBIB, begitu the baldy man juga prefer untuk memilih the Lady, saya sudah down-mental habis-habis-an. Tapi saya mencoba untuk bangkit dan menerima kenyataan bahwa mungkin saya tidak sehebat The Lady dan harus bersedia untuk di-nomor sekian-kan oleh siapa pun, yang jelas-jelas akan memilih The Lady. Lah kok ndilalah si The Lady has a tramp, dan KBIB diserahkan kepada saya? 3 weeks in B! Kota kenangan saya! Walau saya muntah-muntah darah kerja dengan baldy man, dan juga sampai gastroenteristis berat di akhir-akhir proyek, tapi saya benar-benar tetap bersyukur bisa berada 3 weeks di B, di sebuah hotel yang sepertinya kalau bayar sendiri gak bakalan akan rela nginep di situ.. hehehe..
Well, isn't it a good luck?
Dan yang terakhir.. jodoh itu memang di tangan Tuhan, tapi semua orang menuding muka saya bahwa kalau saya tidak berusaha untuk mencarinya, gak bakalan mungkin jodoh itu datang kepada saya.. Hmmm.. gitu ya? Tapi lucu juga, untuk yang satu ini, saya benar-benar tidak pernah melakukan upaya PDKT duluan terhadap calon istri saya. Dia tiba-tiba yang masuk ke HP saya duluan, dan yang saya lakukan hanya me-reply-nya. Dan dengan segala macam ombak-ombak yang lucu-lucu bila diingat-ingat, tiba-tiba dipertengahan Mei 2009, saya melamar dirinya.. dan Oktober 2009, saya menikahinya. Dan, saya yang sudah gak percaya diri dengan gaya bereproduksi yang saya ketahui.. hehehe.. karena terus terang I'm not an expert, nor a porn movie star, dan gagal cukup banyak di awal-awal, sampai gak percaya diri, sampai saya merasa bahwa jangan-jangan bakalan bisa berhasil kalau udah 5-10 tahun lagi (hihihihi), tiba-tiba kok, istri saya positif hamil di awal Desember tahun ini?
Well, isn't it a good luck?
Dengan sedemikian banyaknya keberuntungan yang saya dapatkan di tahun 2009, saya hanya berharap, semoga saya tabah untuk menerima hal-hal yang mungkin tidak sebaik tahun 2009 di tahun 2010 nantinya.. Walau mudah-mudahan saja semoga hal-hal seperti itu tidak akan seburuk seperti yang tidak ingin saya bayangkan untuk terjadi..
Itu kata saya looohh.. Hehehe.. Saya kan ga tau, siapa tahu orang lain memiliki pengalaman yang lain daripada yang saya alami. Soalnya, pengalaman saya tahun ini justru mengajarkan kepada saya untuk jangan terlalu takabur, jangan terlalu sombong. Bila Anda merasa bahwa Anda sudah merasa bekerja keras, maka Anda berhak untuk mendapatkan hasil baik, dan bila tidak ada hasil baik datang kepada Anda, maka Anda akan mencari kambing hitam dan memporak-porandakan isi dunia serta menyalahkan alam semesta beserta seluruh isinya karena tidak mendukung keberhasilan Anda.. hehehe.. Itu namanya Sombong, Kawan.. Itu berarti Anda merasa bahwa Anda yang terhebat.. dan Anda tidak percaya bahwa segala sesuatunya telah diatur oleh Yang Maha Kuasa melalui.. good luck..
Well..
Misalnya nih..
Bulan Januari kemaren.. saya benar-benar BETE. Mungkin barangkali karena pengaturan struktur organisasi di tempat saya bekerja membuat saya menjadi OB (offiz boy) satu-satunya, yang berarti seluruh pekerjaan admin jatuh ke tangan saya. Ketambahan, saya dengar bahwa ada Mgr yang lagi nafsu-nafsunya meng-gol-kan proyek yang bernama AK, dan itu bakalan menyita keberadaan saya dan meng-hold saya untuk tidak melakukan pekerjaan reguler apa pun! Itu membuat saya BETE! Karena, pada dasarnya saya menyukai pekerjaan reguler yang terkait dengan travelling. Di-hold-nya saya gara-gara proyek AK itu membuat saya terhalang untuk travelling! Dan itu membuat saya benar-benar MURKA! Hehehe.. Murka banget deh..
Banyak yang bilang, terpilih di AK itu berarti dipercaya secara kualitas pekerjaan. Tapi ya, what the hell with that! Saya tidak minta terpilih! Lagian saya juga yakin bahwa secara kualitas saya gitu-gitu aja kok, ga hebat.. walo mudah-mudahan juga ya ga loyo loyo amat sih. Ya tapi sudahlah.. saya pasrah.. Andai tidak ada proyek travelling ke luar kota selama tahun ini gara-gara proyek AK, saya akan mencoba untuk pasrah, sepasrah-pasrahnya. Di tengah kepasrahan tersebut, tiba-tiba.. saya terpilih mengikuti proyek ke Ambon! My oh my.. saya belum pernah melihat Ambon. Dan rasanya, kalo saya pergi atas biaya sendiri ke Ambon, hmm.. ogah kali.. hehehe.. Mending ke Spore.. toh biayanya juga sama. Dan, dulu tahun 2005, saya pernah hampir ke Ambon, tapi digagalkan oleh Oknum Setan (sorry, tapi Mgr yg udah pensiun ini bener-bener SETAN kelakuannya.. God, forgive me for saying this). Dan tiba-tiba tanpa dinyana-nyana, saya yang terpilih untuk ke Ambon? Padahal ketua proyeknya adalah orang (yang saya tahu dari sumber-sumber sekunder yang sangat dipercaya) yang sangat meragukan kemampuan saya dan selalu memandang sebelah mata terhadap saya (karena menganggap My Big Mama pilih kasih dengan memberikan keistimewaan terhadap saya). Even saya bukan preference dari si head of project.. toh.. saya tetep melenggang kangkung ke Ambon selama 2 weeks.. Akhirnya.. saya liat Ambon juga, yang pemandangannya memang indah nian itu.. (walo kerja di sana sampai malem-malem, setengah-setengah tersiksa karena head of project yang ritme kerjanya menekan saya sekali, dan sempat sakit pilek berat, walo sembuh juga dalam waktu cepat). Not to mention.. di hotel.. saya sempat lihat Siaran Tunda StarMovies, ACADEMY AWARD 2008!
Well, isn't it good luck?
Saya adalah orang yang paling malas untuk berpikir mengenai nilai kerja. Haduh, membicarakannya pun langsung alergi. Soalnya, saya merasa bingung kalo harus menilai diri sendiri, berapa nilai yang pantas saya dapatkan? Maka dari itu, ketika tiba waktu penilaian kinerja ini, saya hanya bisa berdoa, supaya apa pun hasilnya, berikan saya keikhlasan untuk menerimanya. Dan, saya sudah menyiapkan yang terburuk untuk itu. Coba, tiba-tiba nilai keluar, dan saya mendapatkan 80% of the top! Bayangkan! 80% of the top! The highest among my colleagues! Tentunya dong, saya yang sudah tidak PD dengan nilai yang saya dapatkan itu, kembali ditikam oleh pihak-pihak yang tidak ikhlas. Waduh, benar-benar deh, masa-masa itu, perih banget kalo diinget-inget. Tikaman-tikaman yang ditujukan kepada saya sudah tanpa tedeng aling-aling lagi. Yang membuat saya merasa tidak nyaman, dan percaya bahwa mungkin jangan-jangan itu adalah cobaan. Dan, yang saya heran, kok juga kenapa penikam-penikam yang saya lihat adalah pekerja-pekerja keras (menurut saya loh, saya tidak tahu penilaian menurut pimpinan, atau mungkin menurut Tuhan) tidak berhasil mendapatkan penilaian 80% seperti saya? Walau leveling kebijakan kita memang berlainan sih.
Well, isn't it a good luck?
Yang paling tob markotob di tahun ini, di luar dugaan, saya dikirim oleh kantor untuk dinas ke Frankfurt! Dan saya diijinkan untuk liburan ke Paris dari Frankfurt tersebut! Padahal, kalau dipikir-pikir lagi, bisa saja seniority berperan dalam hal ini, dan mengambil jatah dinas saya. Dan, saya juga bukan pegawai yang handal sekali. Maksud saya, tidak ada satu point istimewa yang benar-benar dapat memutlakkan saya untuk ikut Seminar Bundesbank ke Frankfurt tersebut. But, tiba-tiba saja saya berada di atas pesawat Etihad Airline, transit di Dubai, berada di Frankfurt selama seminggu, berkenalan dengan orang-orang dari berbagai negara dunia ketiga sesama peserta seminar (rumpi-rumpi, diskusi ilmiah, gossip-gossip.. hihihihi), dan kemudian scene beralih ke menara Eiffel! Arch de Triomph! Louvre! Ke Paris dengan biaya yang cukup ekonomis, karena menumpang 'dinas'..
Well, isn't it a good luck?
Proyek AK yang dijanjikan selama setahun ini juga terpaksa harus saya ikuti dengan ikhlas. Dan, seperti cobaan tiada henti-hentinya untuk melanda proyek AK.. tepatnya sih saya.. hihihihi.. Soalnya proyek AK ini juga jadi sasaran empuk bagi penikam-penikam. Huadduuhh, kalau diingat-ingat lagi, air mata sudah kering untuk menangis. Komen-komen yang menyakitkan, "Apa iya bisa ya? Proyek AK untuk Sektor Pb? Yakin? Punya kemampuan untuk itu?" Belum lagi pada saat pemilihan topik, "Yaelah, itu mah kegampangaaaannn.." Melihat ketua proyek AK yang sudah sakit kepala karena di-remeh-kan oleh beberapa penikam (tapi saya benar-benar ikhlas membantu beliau luar dalam, sungguh, I dedicate my life for him.. mudah-mudahan dia terbantu oleh saya), saya langsung ambil posisi, "UDAH! NGAPAIN PAKE MINTA BANTUAN KE PENIKAM? KAYAK KITA GA BISA MIKIR SENDIRI AJA?! UDAH, KITA PILIH AJA TOPIK TENTANG TL!" Yup.. topik tentang TL yang kita pilih ini, masih juga dianggap remeh oleh banyak orang, termasuk penikam. But guess what? Di bulan November ini, kita bertemu dengan pemrakarsa ketentuan, dan dia SANGAT MENGGAPRAISE PROYEK TL KITA INI! "Wah, kita malah gak terpikir sebelumnya ke situ. Padahal itu penting loh" Sumpe, idung ini kembang kempes ngedengernyeee! Hehehe.. Belum lagi, di sampel proyek TL terakhir, bertemu dengan pimpinan KBIB, buset! Itu benar-benar seperti bertemu the Devil from Hell! Diawali dengan Entri Meeting yang MENGINJAK saya (karena cuma saya yang hadir di situ dari perwakilan proyek TL) ke liang kubur, sampai ketika exit meeting, justru beliau yang HIGHLY APPRAISE terhadap proyek TL ini! Appraise yang tidak pernah didapatkan di negeri sendiri bo!
Well, isn't a good luck?
Oya, sehubungan dengan proyek TL ini.. banyak yang bikin sakit hati juga. Misalnya nih ya.. my own AM.. Bayangin.. MY OWN AM! Ketika mau dinas ke KBIS.. ikut campur dengan memilih the Lady ikut ke KBIS.. mewakili proyek TL! Bayangin tuh! Kenapa juga dia gak milih OB-nya sendiri? Saya gitu misalnya? Emangnya segitu bodohnya saya kah? Walo saya sempet merasa, bahwa ini juga dipengaruhi oleh 'good luck' saya dalam mendapatkan 80% of the top. Hmm.. tentu itu membuat banyak penikam sirik, dan my own AM yang juga saya rasa sirik, atau apa lah, tentunya meng-out-kan saya demi si Lady. Ya ga pa pa. Toh, karena out of KBIS, saya jadi bisa nonton Twilight Orchestra di DjakTh Ballroom yang menurut saya adalah konser termengesankan yang pernah saya saksikan! Dan saya mensyukuri habis-habisan karena saya tidak perlu ke KBIS! Dan, begitu pula dengan proyek KBIB, begitu the baldy man juga prefer untuk memilih the Lady, saya sudah down-mental habis-habis-an. Tapi saya mencoba untuk bangkit dan menerima kenyataan bahwa mungkin saya tidak sehebat The Lady dan harus bersedia untuk di-nomor sekian-kan oleh siapa pun, yang jelas-jelas akan memilih The Lady. Lah kok ndilalah si The Lady has a tramp, dan KBIB diserahkan kepada saya? 3 weeks in B! Kota kenangan saya! Walau saya muntah-muntah darah kerja dengan baldy man, dan juga sampai gastroenteristis berat di akhir-akhir proyek, tapi saya benar-benar tetap bersyukur bisa berada 3 weeks di B, di sebuah hotel yang sepertinya kalau bayar sendiri gak bakalan akan rela nginep di situ.. hehehe..
Well, isn't it a good luck?
Dan yang terakhir.. jodoh itu memang di tangan Tuhan, tapi semua orang menuding muka saya bahwa kalau saya tidak berusaha untuk mencarinya, gak bakalan mungkin jodoh itu datang kepada saya.. Hmmm.. gitu ya? Tapi lucu juga, untuk yang satu ini, saya benar-benar tidak pernah melakukan upaya PDKT duluan terhadap calon istri saya. Dia tiba-tiba yang masuk ke HP saya duluan, dan yang saya lakukan hanya me-reply-nya. Dan dengan segala macam ombak-ombak yang lucu-lucu bila diingat-ingat, tiba-tiba dipertengahan Mei 2009, saya melamar dirinya.. dan Oktober 2009, saya menikahinya. Dan, saya yang sudah gak percaya diri dengan gaya bereproduksi yang saya ketahui.. hehehe.. karena terus terang I'm not an expert, nor a porn movie star, dan gagal cukup banyak di awal-awal, sampai gak percaya diri, sampai saya merasa bahwa jangan-jangan bakalan bisa berhasil kalau udah 5-10 tahun lagi (hihihihi), tiba-tiba kok, istri saya positif hamil di awal Desember tahun ini?
Well, isn't it a good luck?
Dengan sedemikian banyaknya keberuntungan yang saya dapatkan di tahun 2009, saya hanya berharap, semoga saya tabah untuk menerima hal-hal yang mungkin tidak sebaik tahun 2009 di tahun 2010 nantinya.. Walau mudah-mudahan saja semoga hal-hal seperti itu tidak akan seburuk seperti yang tidak ingin saya bayangkan untuk terjadi..
Senin, 25 Mei 2009
In My Life..
There are places I'll remember,
All my life though some have changed,
Some forever not for better,
Some have gone and some remain..
All these places have their moments,
With lovers and friends I still can recall,
Some are dead and some are living,
In my life I've loved them all..
But of all these friends and lovers,
There is no one compares with you,
And these memories lose their meaning,
When I think of love as something new..
Though I know I'll never lose affection,
For people and things that went before,
I know I'll often stop and think about them,
In my life I love you more..
In my life I love you more..



















All my life though some have changed,
Some forever not for better,
Some have gone and some remain..
All these places have their moments,
With lovers and friends I still can recall,
Some are dead and some are living,
In my life I've loved them all..
But of all these friends and lovers,
There is no one compares with you,
And these memories lose their meaning,
When I think of love as something new..
Though I know I'll never lose affection,
For people and things that went before,
I know I'll often stop and think about them,
In my life I love you more..
In my life I love you more..



















Senin, 06 April 2009
The Wedding Day of My Cousin..
Here, There & Everywhere
(by Paul McCartney & John Lennon)
To lead a better life I need my love to be here...
Here, making each day of the year
Changing my life with a wave of her hand
Nobody can deny that there's something there
There, running my hands through her hair
Both of us thinking how good it can be
Someone is speaking but she doesn't know he's there
I want her everywhere and if she's beside me
I know I need never care
But to love her is to need her everywhere
Knowing that love is to share
Each one believing that love never dies
Watching her eyes and hoping I'm always there
I want her everywhere and if she's beside me
I know I need never care
But to love her is to need her everywhere
Knowing that love is to share
Each one believing that love never dies
Watching her eyes and hoping I'm always there
To be there and everywhere
Here, there and everywhere..
PS:
To my cousin and his wife..
I wish all the best for your happiness.. :)
































(by Paul McCartney & John Lennon)
To lead a better life I need my love to be here...
Here, making each day of the year
Changing my life with a wave of her hand
Nobody can deny that there's something there
There, running my hands through her hair
Both of us thinking how good it can be
Someone is speaking but she doesn't know he's there
I want her everywhere and if she's beside me
I know I need never care
But to love her is to need her everywhere
Knowing that love is to share
Each one believing that love never dies
Watching her eyes and hoping I'm always there
I want her everywhere and if she's beside me
I know I need never care
But to love her is to need her everywhere
Knowing that love is to share
Each one believing that love never dies
Watching her eyes and hoping I'm always there
To be there and everywhere
Here, there and everywhere..
PS:
To my cousin and his wife..
I wish all the best for your happiness.. :)
Langganan:
Postingan (Atom)
Arsip Blog
-
▼
2011
(9)
-
▼
Februari
(8)
- Singapore on CNY 2011 (8): Bunuh Diri demi.. Brand...
- Singapore on CNY 2011 (7): Singapore.. Indonesia c...
- Singapore on CNY 2011 (6): Berbicara dan Bergerak ...
- Singapore on CNY 2011 (5): Hunting Buku, CD dan DV...
- Singapore on CNY 2011 (4): Universal Studio? Just...
- Singapore on CNY 2011 (3): Mustafa ya Mustafa..
- Singapore on CNY 2011 (2): CNY di Singapore Sepi? ...
- Singapore on CNY 2011 (1): Bekerja demi Sesuap Nas...
-
▼
Februari
(8)
About me..
- The Heart is A Lonely Hunter
- I've been passing time watching trains go by.. All of my life, lying on the sand watching seabirds fly.. wishing there would be, someone's waiting home for me..