Senin, 22 Desember 2008

Exploring Aceh (5) – From Zero to Hero..

Aceh nowadays is different from so many years ago. Thanks to Tsunami perhaps.. Well, you could guarantee that a disaster sometimes bring you some good influences. After Tsunami (around December 2004), the situation in Aceh went back to normal again, one step at a time. It used to be ‘under military services’ and a lot of robbing and criminals activity after 19.00 o’clock (they blamed it on GAM – Party of Independence for Aceh, but I think I couldn’t blame them since it was hard to define accurately about such an accusation). But now, I’ve seen a lot of city activity that never sleeps here..

Tsunami brought so many NGO (Non-Governmental Organization comes here. On a plane, I felt that I would have gone to.. NEW YORK! Hehehehe… Many foreigners in Aceh, speaking in so many languages that was difficult to be understood. The foreigners (indirectly) demand a modern city situation. Therefore you could see that this city is alive now! Trading is all everywhere, but of course, along with the Moslem spirit (which encouraged most in this city), you couldn’t find some entertainment places (such as cinema, discotheque or live music show around here) like in a big city as Medan, Jakarta, Bandung, Yogyakarta or Surabaya.

So many development activities are going on around here. National Reconstruction Agency (NRA) helps Aceh to build itself into a modern city again. Houses, buildings, public facilities are build everywhere. Not to mention that they intend to build a Museum of Tsunami, which will be completed around next year (poor alas, that I come here before it has been finished). I think, this city will grow bigger more than we imagined before.

And do not playing with the price! Hehehehe.. The standard of living costs could be relatively expensive. Sometimes I was shocked for its cost of dining (lunch and dinner), since frequently it could result the bigger expense compare to Jakarta, my hometown. Mas X (here we go again.. hehehe), the one who has so many relatives in this city told me, “Mas Adhi, my relative said that they rented a room for Rp10 millions a month. The room was normal according to my opinion. Not such a luxurious place I think..” What? 10 millions a month? In Jakarta, you could rent a very luxurious place for just Rp20-30 millions a year!

It is glad to see Aceh raises itself up nowadays.. and I hope that it won’t stop to grow. If it is so, then the city stands for nothing..

Except for a history..

Exploring Aceh (4) – From Hero to Zero

When I was in kindergarten, I always sang ‘Dari Sabang sampe Meroke.. berjajar pulau-pulau’ (From Sabang until Meroke, there are a lot of islands..). That song taught us that Indonesia has so many islands, and you could count it from Sabang (the beginning point) until Meroke (the ending point).

When I had a chance to go to Aceh, I swore to myself to visit Pulau Weh (the island of Weh) too. Well, in that island lies the city of Sabang (as mentioned by the song above), and from such Island, the beginning point of Indonesian area was counted. Pulau Weh is not far from Aceh (Aceh was situated in the land of Sumatra, and the other hand, Pulau Weh is a separated island from Sumatra, but under the authority of Aceh’s government).

It took 45 minutes from Aceh to go to Pulau Weh by machine boat, across the sea, and when I landed on Pulau Weh, we took a car to visit.. zero km! Yeah, I thought, I really don’t know what will happen next to my life, so should there be any chance for me to conquer something, at least I had to make it!

When I saw the hiker who wanted to conquer the mountain (for example, the Himalaya), they faced a lot of danger just to do that. And, I always said, “That crazy persons, what the hell do they think to have many very risky situation just to conquer the mountain?! Don’t they have anything else to do? Shopping in exclusive malls for example?”

As soon as I landed on Pulau Weh, I felt the same sensation like the hiker.. to conquer the zero KM! Some kind of curse for me, but unlike the hiker.. of course an aristocrat boy like me should have a car with full of AC to conquer that.. hehehehe..

It took about 50 km from the harbor of Pulau Weh to get the zero km area. I could say that Pulau Weh is very wonderful in the terms of panorama. It was very natural and the beach is beautiful, naturally. The mountains lie here, there and everywhere, and bring a nice warm feeling to us. 10 km from the Zero KM area, I saw forests in the left and right side of the road..

When we crossed such road, the driver said, “Sir, it is safe here. You don’t have to be afraid that some bad peoples will harm you..” Then I look the forest around us while asked, “Engg.. are there any wild animals around here?” And the driver answered, “Sure, some kind like Python (the big snake), Biawak (big lizard) and tiger..” I looked straightly to the driver, “Then, YOU WANNA SAY THAT I SHOULD BE MORE COMFORTABLE TO BE LEFT HERE WITH THEM COMPARE TO THE BAD PEOPLES?” He just laughed along the way by hearing my question..

At last, after 1 hour journey, we landed on the area of Zero KM! This is the point when Indonesia counts its area. I took some pictures (you could see in the folder of ‘From Hero to Zero’) here. There was nothing special to be seen, but at last, like the hiker, you could say the whole world, “Well! I made it here!”

After the Zero KM, the beginning in Indonesia, I just wish that someday I’ll have a chance to visit the ending of Indonesia in Meroke.. of course.. by business trip only, of course..

Since, should there be any money that I have to spend for the trip, I’ll choose New York instead of Meroke.. without any hesitation.. hehehehe..

Exploring Aceh (3) – Menginap di Bintang Lima, Makan dan Mencuci Baju? Di Kaki Lima..

Inilah balada dari pekerjaan saya.. yakni menginap di bintang lima, makan dan mencuci baju di kaki lima.. ;P

Pekerjaan saya terkadang membutuhkan dinas luar kota. Tapi, frekuensi dinas luar kota saya masih terbilang wajar menurut saya, bahkan cenderung minus. Soalnya, saya mungkin bukan pekerja favorit, dan juga mungkin kualitas pekerjaan saya meragukan, sehingga saya jarang dibajak oleh manajer-manajer lain untuk dinas keluar kota, yang jelas banyak memakan biaya per personil pegawainya.. Takutnya mungkin gak balik modal dengan mengajak saya.. hehehehe..

Nah, dinas luar kota saya ini selalu membutuhkan long stay. Minimal 2 minggu. Kantor saya menanggung biaya pesawat dan hotel yang relatif eksklusif. Tapi, untuk makan dan cucian baju? Itu lah yang harus diatur dari uang saku kami yang tidak begitu besar.

Mungkin bukan uang sakunya yang salah, tetapi tarif makan dan cuci yang ditetapkan oleh hotel-hotel top tersebut. Seperti di hotel H (Aceh) ini misalnya, tarif cuci pakaiannya per potong hampir sama dengan membeli 1 pakaian baru keluaran produksi lokal! Hehehe. Belum room service menu-nya, yang harga seporsi pisang goreng itu hampir sama dengan 2 paket standar KFC!

Maka, pintar-pintar-lah kami untuk mengatur makan dan cucian. Saya yang terbiasa hidup manja dan tidak mau susah, lebih baik menyerahkan laundry ke luar, walau pun untuk deg-deg-an dalam hal waktu penyelesaian dan kualitas kerjanya (ada yang hancur gak ya?). Tapi untuk beberapa rekan kerja saya (seperti Mas X misalnya, sorry, dia lagi.. dia lagi.. hehehe), lebih memilih untuk mencuci baju di kamar. Saya sempat bingung..

“Emang digantung dan dijemur dimana ya, Mas?” tanya saya..
“Di gantungan korden kamar mandi aja Mas Adhi, ato bisa juga ditaro di atas TV atau lampu-lampu..”

Wah, kamar hotel bintang lima kok jadi hampir mirip seperti Rumah Susun Tipe Sangat Sangat Sederhana Sekali yak? Baju-baju bertebaran dari 8 arah penjuru mata angin.. hehehe. Yah, tapi namanya juga usaha.. Dan ini juga menyebabkan besoknya beberapa orang mengeluh mengantuk dan pegal-pegal pas makan pagi, dengan alasan, “Setrikaan saya banyak tadi malam..” atau, “Kok saya tadi malam sempat mimpi memeras dan membilas pakaian ya?”

Tapi pernah ketika tidak ada cucian untuk hari itu, Mas X malah berkomentar, “Kok sepertinya ada yang hilang ya dalam hidup saya? Mungkin ada baiknya saya cuci seprai kamar hotelnya untuk keseimbangan jiwa saya ya?” Hihihihihi..

Untuk makan pun, kami juga menyiasatinya dengan mengandalkan.. POP MIE DAN INDOMIE! Makanan penyelamat kami yang walau pun secara kualitas gizi masih diragukan keandalannya. Dan juga beberapa stok biskuit serta buah-buahan, kalau-kalau mendadak kelaparan di tengah malam dan tidak ingin terjebak dalam jeratan harga makanan room-service yang jelas-jelas jauh lebih berbahaya dari jeratan cewek posesif! ;P

Well, menurut saya, pekerjaan saya ini memberikan dua manfaat. Sebagai verifikator, Anda terbiasa jeli untuk melihat sesuatu, dan sebagai ‘traveler dengan allowance yang ala kadarnya’, Anda akan terbiasa untuk mengatur anggaran Anda dengan sebaik mungkin..

Cocok nih sepertinya kalau kita-kita ini di-hire untuk menyusun APBN di tahun-tahun yang akan datang! Hehehehe..

Exploring Aceh (2) – To Protect but Not To Serve..

Pekerjaan saya sebagai verifikator (kata-kata ini lebih senang saya gunakan karena maknanya lebih halus dan tidak mendatangkan kebencian.. hehehehe), membuat saya selalu memulai hasil analisis saya dengan kata-kata, “Berdasarkan sampling, diketahui bahwa..” Well, untuk bercerita kali ini, saya pun juga berupaya untuk memulai dengan kata-kata, berdasarkan sampling, saya ingin mengatakan bahwa di Kota Aceh ini Anda akan mendapatkan kepastian yang cukup untuk beberapa fasilitas (you are protected well). Bank, ATM, toko-toko, makanan, dll., semuanya ada disini. Bahkan branded makanan junkies dari luar seperti KFC, A&W, Texas pun bisa ditemukan disini walau masing-masing hanya memiliki 1 outlet.

Tapi soal being served? Eits! Nanti doeloe.. ;P

Berdasarkan sampling looohh.. hehehehe..

Pelayanan beberapa fasilitas yang lama dan membingungkan. .

Misalnya, di daerah pusat kota, ada traditional food court yang bernama CB (sorry, inisial, saya takut di-somasi.. ;P). Di CB ini ada stand Martabak Telor. Sebagai seorang penggemar makanan tersebut, saya selalu berupaya untuk mencobanya di setiap kali kesempatan berkunjung ke satu daerah, untuk membandingkan ciri khas Martabak dari tempat yang satu ke tempat yang lain. Waktu itu masih pukul 18.00, dan saya menuju ke penjual yang sedang sibuk memotong-motong bahan-bahan baku Martabak tersebut, “Mas, pesen satu yaa..” Anda tahu apa jawabnya? Dengan menggunakan bahasa Indonesia campur bahasa Aceh yang saya tidak mengerti, kira-kira begini jawabnya, “Maaf Mas, bisa menunggu satu jam? Soalnya saya sedang menyiapkan bahan-bahannya..”

Aje gile! Satu jam? Lo kata lo mo check-sound buat maen band di panggung?!! Saya batal memesan martabak dan langsung memesan Mie Aceh yang sebenarnya gak terlalu saya sukai. Yah, tapi daripada gak makan sama sekali..

Kemudian, keesokan harinya, kami makan di Restoran Mie Aceh ‘R’. Tempatnya penuh sesak! Wah, pasti ini enak banget. Kalo gak, gak mungkin yang datang sebanyak ini. Saya bersama rekan kerja saya memesan mie dengan beragam rasa, ada yang mie rebus, ada yang mie goreng, ada yang mie goreng telor.. dsb. Setelah menunggu hampir 30 menit (lama sekali) untuk pesanan kami, tiba-tiba datanglah ke meja kami.. SEMUANYA MIE GORENG POLOS! Jadi, pesanan-pesanan dengan beragam variasi yang kami tulis di kwitansi tadi, batal demi hukum! Berhubung semuanya sudah terkontaminasi dengan emosi seperti pejuang GAM, Mie Goreng polos pun disikat juga sampai tandas! Gilanya lagi, waktu saya mau melakukan pembayaran, di bon masih tertulis pesanan kami dengan variasi-variasi mie yang harganya lebih mahal daripada mie goreng polos yang kami makan. Walhasil saya langsung mengultimatum mas-mas kasir untuk mengeluarkan jurnal akuntansi koreksi atas harga-harga tersebut!

Bukan hanya di restoran, tapi ini terjadi di Laundry. Mungkin saya yang salah memilih tempat laundry ‘A’, tapi cukup membingungkan bahwa untuk 3 kemeja dan 3 celana panjang, lengkap dengan 3 pasang pakaian dalam (kaus dan celana).. Anda diharuskan menunggu sebanyak.. 5 hari! Tapi, karena saya tidak mau ambil pusing, saya iyakan, hari Sabtu laundry saya ‘cek-in’, dan dijanjikan hari Rabu-nya ‘cek-out’. Kemudian, pada hari Rabu jam 15.00, saya datang ke tempat laundry untuk mengambil pakaian-pakaian saya. Tahu apa hasilnya? “Mas, belum selesai.. jadinya baru jam 17.00. Karena batas akhir toko tutup kan jam 17.00!” Yang tadinya saya hampir ngamuk-ngamuk habis-habisan, tapi begitu mengingat bahwa mungkin ini karma saya karena saya sering sekali melakukan sholat di waktu-waktu perbatasan (misalnya lohor yang 5 menit selisih dengan ashar, ato ashar yang selisih 5 menit dengan magrib, dan seterusnya.. hehehe), saya urungkan.. Saya pasrah, dan menunggu saja.. hik.. hik.. hik..

Atau, kealpaan mengerjakan orderan Anda..

Hotel yang saya diami ini berbintang lima. Pokoknya keren banget dah! Maklum, kan ada corporate rate. Jadi, harus dimanfaatkan dengan maksimal.. hehehe. Tapi, di hari Minggu ketika saya biasa bangun siang, mas-mas cleaning service mengetuk kamar saya jam 9 pagi, “Mas, mau dibersihkan?” Saya bilang ke dia, “Bisa jam 12? Nanti jam segitu saya keluar.” Dia mengiyakan, dan jam 12 saya pergi mencari makan siang serta belanja oleh-oleh. Sebelum pergi, saya gantung tulisan ‘please clean up the room’ di depan pintu kamar. Pulang dari berpergian, saya tiba di hotel jam 16.30. OK, sekitar 4 jam lebih saya meninggalkan hotel. And, guess what? MY ROOM WAS STILL NOT CLEAN! Persis seperti keadaan waktu saya meninggalkannya. Seumur-umur saya menginap di hotel berbintang lima, baru sekali ini saya mengalami hal seperti ini. Maka dengan emosi yang ditahan sampai ke titik maksimal, saya telpon resepsionis untuk mengirimkan cleaning service ke kamar, yang baru datang sekitar 15 menit kemudian.. Haduuuuuhhhhhh..

Yang lebih parah lagi.. inkonsistensi dalam menetapkan harga!

Atas dasar promosi orang-orang di kantor cabang kami di Aceh, kami mencoba ikan bakar di AA. Katanya enak, walau agak mahal. Kebetulan saya dinas dengan Mas X juga (Mas X, the one who were mentioned in my note of “Beauty, Brain & Behavior, suatu studi komparatif”). Mas X yang asli orang Aceh tapi berdomisili di Jakarta ini muncul sebagai juru runding harga. Harga ikan yang ditetapkan Rp35 ribu, yang menurut kami terbilang mahal. Tapi setelah sang penjual berbincang-bincang menggunakan bahasa Aceh dengan Mas X, Mas X menginformasikan kepada kami, “Kata dia, gampang lah, makan aja dulu, 35rb itu bisa kurang kok, kan yang makan banyak, gak mungkin lah saya bohong, kalau saya bohong, manalah ada yang mo kemari lagi?”

Berbekal kepercayaan kepada negosiasi tersebut, kami setuju untuk menyantap hidangan ikan bakar.. yang menurut saya sih.. rasanya biasa-biasa aja (jauh lebih enak yang ada di depan kantor saya.. tapi saya lupa.. namanya apa ya?). Setelah selesai menyantap ikan-ikan tersebut, saya selaku bendahara menuju ke meja kasir, dan bengong setelah melihat ikan-ikan tersebut bukannya di-charge lebih murah dari Rp35 ribu, malahan di-charge Rp40 ribu per ekor! Alasan mas-mas kasir-nya, “Ikannya besar-besar.. saboh ampo puloh lah..” Kalo gak salah dengar sih begitu. Buru-buru saya panggil Mas X, dan Mas X pun jadi bengong-bengong melihat final result harga seperti itu. Muka Mas X penuh dengan emosi. Tapi saya buru-buru membayar dan langsung menyeret Mas X pergi dari tempat itu, “Mas, udah deh, cuman Rp40rb doang selisih semuanya, mending dibayar aja, daripada entar digorok rencong! Lagian kan juga udah kemakan ini Ikannya…”

Tahu apa jawaban Mas X? “Soalnya Mas Adhi, saya jadi mulai gak percaya diri sama Bahasa Aceh saya. Kok setelah saya nego, harganya lebih tinggi ya?” Saya ngakak! Hehehehe.. Sejak itu sepertinya Mas X bener-bener ogah untuk jadi juru runding harga-harga di Aceh lagi.. gak percaya diri niyeeee.. ;P

Begitulah, mungkin ini hanya sampling yang salah.. tapi, tanpa bermaksud untuk menyinggung pihak-pihak tertentu, melihat kualitas pelayanan ‘rata-rata’ seperti itu, saya jadi sempat bertanya-tanya dalam hati, “Berani benar ya mereka minta merdeka dari Indonesia? Yakin sanggup mengatur negara sendiri? Mengatur pesanan makanan aja gak becus..” Hehehehe.. sorry..

But once again.. perhaps, it was my sampling which was not right.. ;)

Selasa, 16 Desember 2008

Exploring Aceh (1): I Left my Heart in Masjid Baiturrahman

Saya ini termasuk orang yang paling malas ke masjid. Meskipun masjid di kompleks perumahan saya terletak 100m dari depan rumah orang tua saya (I’m still staying with them), kunjungan saya ke masjid tersebut bisa dikatakan tidak lebih dari 5 kali setahun. Itu pun kebanyakan untuk sholat Jumat di hari-hari libur nasional. Tarawih? Nope, better done it by myself at home, sehingga sehabis itu bisa langsung cepat tidur atau bersantai-santai.. he..he.. Juga, meskipun kantor saya memiliki masjid yang cukup megah (walau tidak terlalu besar), kunjungan saya ke masjid tersebut hanya sebatas sholat Jumat saja.

Namun, ketika berada di Aceh ini, pertama kali melintasi jalan di pusat kota, Masjid Baiturrahman sudah menarik hati saya dari jauh. Baik di pagi hari ketika saya hendak pergi ke kantor cabang tempat saya bertugas, mau pun malam hari ketika saya pulang menuju hotel. Akhirnya, ketika hari Jum’at tiba, berbekal kamera yang ala kadarnya, saya menuju ke masjid raya tersebut untuk melakukan photo session sambil beribadah sholat Jum’at.. eh.. maksudnya beribadah sholat Jum’at sambil melakukan photo session.. he..he..

Memasuki halaman masjid, nuansa historis bangunan ini mulai terasa. Walau pun telah berulang kali mengalami renovasi, sentuhan klasik dari arsitektur bangunan ini tetap terasa (renovasi terakhir dilakukan untuk memperbaiki kerusakan minor akibat bencana Tsunami, satu hal yang ajaib bahwa masjid ini tetap berdiri dengan tegak sementara bangunan-bangunan disekitarnya luluh lantak). Arsitektur masjid ini merupakan gabungan berbagai unsur dan model terbaik dari berbagai negeri, terutama sekali unsur-unsur Moorish, yang banyak terdapat di masjid-masjid Afrika Utara dan Spanyol. Di bagian dalam masjid, antara kolom satu dengan lainnya dihubungkan dengan plengkung patah model Persia bercorak Arabesque, juga dengan hiasan kaca mozaik pada beberapa dinding dan atapnya.

Mesjid ini berumur cukup tua, dibangun semasa Sultan Iskandar Muda berkuasa (Abad 16). Di abad 18 & 19, mesjid ini juga menjadi benteng pertahanan pasukan Aceh yang berperang melawan Belanda. Dalam hal ini, betapa pun kita mengutuk aksi Belanda yang sangat kurang ajar dan tak tahu adat pada saat itu, kita juga harus berterima kasih kepada mereka. Belanda lah yang melakukan pembakaran masjid ini hingga luluh lantak agar pejuang Aceh tidak mendapatkan tempat berlindung lagi, namun Belanda juga yang membangun masjid ini kembali untuk menarik simpati rakyat Aceh (setelah berkonsultasi dengan Snouck Hurgronje, pakar antropologis yang ahli dalam filsafat dan kultural keagamaan, yang juga menjadi dalang untuk mengadu domba ulama-ulama di Aceh). Bangunan terakhir dari Belanda di abad 19 inilah yang dipertahankan hingga saat ini.

Entah sugestif atau tidak, saya benar-benar betah berada di masjid tersebut (walau tetap, pada saat pak usztad melayangkan kotbahnya sebelum Jum’at-an dimulai, saya tetap tidur dengan suksesnya.. he..he). Banyak masjid-masjid mewah dan megah yang saya pernah kunjungi di kota-kota besar di Indonesia, namun hati saya hanya terpaut pada masjid ini (walau saya tetap lebih cinta Jakarta.. jadi, bagaimana kalau mesjidnya kita pindah saja ke Jakarta? He..he..). Rasa kagum, iklas, tawakal dan mistis, seluruhnya bercampur jadi satu ketika sedang berada di dalam masjid ini.

So, if you have a chance to visit Aceh someday, sedapat mungkin jangan Anda lewatkan kesempatan untuk mengunjungi Masjid Baiturrahman, the one that could possibly make you left your heart sincerely..

Kamis, 27 November 2008

DRIVING MISS DAISY OR DRIVING MISS "CRAZY"?

For those who know my parents and my grandparents very well.. please don’t tell them about this article.. ;P

Driving Miss Daisy adalah film keluaran tahun 1989, yang memenangkan Oscar sebagai Film Terbaik, dan memberikan Oscar untuk Jessica Tandy (in the age of 80, waktu itu) sebagai aktris terbaik. Miss Daisy (Jessica Tandy) adalah seorang janda yang tinggal sendiri di rumah miliknya. Menurut anaknya, kelakuan Miss Daisy ini semakin super sensitif ketika usianya bertambah tua. Maka, untuk mengatasi hal ini, anaknya memperkerjakan supir pribadi untuk Miss Daisy (diperankan dengan brilian oleh Morgan Freeman), yang selain berfungsi sebagai sarana transportasi juga dapat menjadi teman yang ‘sangat memahami’ kerewelan orang-orang tua seumurnya. Film itu menceritakan hubungan persahabatan yang manis antara Miss Daisy dengan Pak Supir yang berkulit hitam, termasuk kepasrahan Pak Supir menerima kebawelan Miss Daisy.

Melihat film itu, saya langsung berpikir.. apa iya sih, orang kalau makin tua, makin jadi bawel dan super sensitif serta berkelakuan aneh-aneh?

Ya pengamatan terdekat pastinya.. dari keluarga sendiri dong.. he..he..

Tengok nenek saya (dari pihak Ibu). Perasaan sih sekitar 10-15 tahun yang lalu nenek saya ini biasa-biasa aja sifatnya. Tapi begitu menginjak usia ke-80, hingga sekarang diusianya yang ke-86, super sensitifnya muncul entah dari arah mata angin yang mana. Misalnya, pernah suatu hari saya begitu sibuk membaca materi pekerjaan di rumah pada akhir pekan, sehingga tidak menyadari beliau berada di dekat saya saat itu. Sekitar 10 menit kemudian, tiba-tiba beliau balik ke kamar dan terdengar suara isak tertahan tak beberapa lama. Saya pun buru-buru masuk ke kamarnya karena panik. Tahu apa yang dia katakan? “Saya salah apa? Kenapa saya tidak disapa tadi pada saat saya di dekat kamu?” Alamakjaaann.. lah wong orang lagi gak nyadar jeh. Ya mbok saya dicolek kek gitu, diinjek kek, apa kek, biar nyadar.. gak perlu lah pake terisak-isak dan membuat saya sampe filing gilti ke langit ketujuh..

Ya.. tapi itulah orang yang sudah tua.. he..he..

Juga tengok lagi nenek saya (dari pihak Bapak), yang pada suatu hari tanpa pemberitahuan muncul di rumah saya dengan membawa oleh-oleh dari Surabaya (beliau habis pergi dari sana). Dulunya sih nenek saya ini orangnya gak pernah ributan, tapi menginjak usia ke-80, hingga sekarang diusianya yang ke-83, ternyata sifat ributnya mulai tampak. Tante saya yang nganter nenek saya ke rumah saya ini berkilah, “Haduh, ini ributnya tiap hari minta dianter kesini. Udah deh, mendingan sekarang aja saya anter, daripada berabe!” Bapak saya yang ngliat oleh-oleh yang dibawa mak-nya itu malah berujar, “Ini kok kayaknya antara oleh-oleh dan ongkos perginya (sekitar 100 Km pulang pergi dari rumah saya ke rumah) agak-agak gak imbang ya?” Saya langsung ngakak.. Aduh Beh.. Beh.. ya tolong dong.. nenek-nenek gitu loh, manalah keburu make analisis cost-benefit segala?

Tapi Bapak saya juga tidak luput dari ‘sindroma’ ini..

Dulu beliau juga kayaknya santai-santai aja dalam berurusan dengan yang namanya ‘energi’. Tapi begitu menginjak usia yang ke-60, tiba-tiba beliau langsung jadi over-acting. Pemakaian listrik harus hemat! Kalau coba-coba meninggalkan kamar dalam keadaan lampu dan AC nyala, walau hanya sebentar (karena ke WC atau lain hal), tiba-tiba langsung dimatikan! Membuat saya jadi il-fil dan pengen pindah ke Finlandia (biar jauh banget maksudnya dari Jakarta.. he..he..)! Belum lagi kalau ada petirbergemuruh, tanpa basa-basi langsung seluruh listrik rumah dimatikan! Dan, saya berasa jadi hidup di jaman The Flintstones! Aduh, Beh, ini kalau sampeyan udah umur 70-an ke atas, saya harus setabah apa lagi ya? He..he..

Suatu hari, saya liat di artikel majalah yang membahas tentang kehidupan di rumah jompo. Salah satu orang di rumah jompo itu diwawancara. Kata orang itu, dia masuk ke rumah jompo karena murni keinginannya. Anak-anaknya melarang. Tapi dia tahu, bahwa orang tua seperti dia pasti jadi super sensitif dan dapat menjadi beban bagi anak-anaknya. Selain itu, berkumpul bersama sesama jompo yang juga sama-sama super sensitif, juga menjadi hiburan tersendiri bagi lingkup pergaulan sosialnya. Anak-anaknya pun memberi syarat, boleh tinggal di rumah jompo, tapi setiap akhir pekan harus bergiliran menginap di rumah anak-anaknya.

Saya sih gak kebayang menitipkan orang tua di rumah jompo. Rasanya kok ‘gimana gitu’ ya? Apalagi saya anak 1-1-nya. Tapi, saya bisa ngerti juga, bahwa rumah jompo itu bukan selamanya ‘solusi buruk’. Makanya, waktu itu saya sempet berujar ke Ibu saya yang sedang duduk di dekat saya ketika saya sedang membaca artikel tersebut, “Kadang-kadang, mungkin ada benarnya juga kali ya kalau orang tua itu tinggal di rumah jompo..”

Mendengar kata-kata saya itu, Ibu saya langsung mendelik, “Jadi, maksud lo, lo mau naro gue di panti jompo kalo udah tua?! Lo tuh anak durhaka banget sih?!!”

Loh.. loh.. emang saya ngomong apaan sih? Kok jadi kesitu-situ tanggepannya?

God.. my ‘Driving Miss Daisy’ show has just begun.. But it’s OK, as long as I don’t have to get a show of ‘Driving Miss Crazy’..

;P

ONE FACTOR YOU SHOULD CONSIDER BEFORE ACCEPTING THE JOB IS..

TOILET!

He..he..

Yes! Toilet! Ruangan yang dapat berukuran relatif kecil mau pun besar tersebut, menurut saya memegang peranan penting dalam sendi-sendi kehidupan di mana pun. Anda bisa bayangkan kan? Bila Anda berada di dalam kantor sekitar 8 jam sehari, setidaknya Anda pasti akan menggunakan toilet tersebut minimal sekitar 2-3 kali dalam sehari.

Dalam kasus saya.. malahan frekuensinya bisa melebihi sholat lima waktu! He..he..

I remember, dulu saya tidak terlalu perduli tentang hal yang satu ini. Namanya juga baru lulus S1, dan punya prinsip “Yang penting dapet kerjaan, deh.” Maka, dalam setiap sesi job test atau interview di mana pun, toilet di kantor yang bersangkutan tersebut luput dari pertimbangan saya.

When I was accepted company X, I felt irritated with its toilet. Agak susah untuk melukiskannya. Tidak terlalu kotor, namun tidak juga bersih. But aromanya agak-agak unpleasant, dan kebetulan model keramik dan tools lainnya (WC, keran, hanging pispot) juga tidak sesuai dengan hati saya. Selama ini saya baru mampu untuk menggunakan toilet di company X itu untuk cuci tangan dan buang air kecil. Lebih dari itu? Gak kebayang! Ngerti dong maksudnya.. he..he..

So, untuk yang berikutnya, sebelum saya memutuskan untuk mengatakan YES ke company Y, saya buru-buru memeriksa toilet-nya terlebih dahulu. Well, it’s not bad. Kebetulan juga company Y itu adalah tenant di salah satu bangunan terjangkung di Jakarta. Jadi, bisa dipastikan kualitas toilet-nya ya harus representatif punya dong. Dan di Company Y itulah saya baru dapat melakukan ‘lebih dari sekedar buang air kecil’ dengan nyaman.. he..he..

Toilet sih boleh cocok, tapi sayangnya gaji dan fasilitas gak cocok.. ;P Jadi, pada saat company Z menawarkan job yang lebih prospektif menurut saya, buru-buru saya ambil, sialnya tanpa mempertimbangkan faktor toilet tadi, yang kemudian saya baru tahu ternyata toilet company Z itu mirip-mirip dengan company X, tapi sedikit lebih baik. Hmm.. jangan-jangan mesti pindah kantor lagi nih.. he..he..

Entah Company Z itu bisa membaca pikiran saya atau tidak, ternyata 3 bulan kemudian Company Z memutuskan untuk pindah kantor ke salah satu gedung di Jl. Sudirman. Sumpe, toilet-nya sih OK banget. Kran wastafel-nya memakai sistem scan tangan, sehingga gak memubazirkan penggunaan air, keramiknya juga ciamik punya. Tappiiii, kok di WC-nya hanya ada.. tissue? Tanpa shower?!! Jadi, kalau hendak ‘lebih dari sekedar buang air kecil’, saya terpaksa harus mencari-cari cara untuk menadahkan air di keran untuk dibawa ke dalam bilik WC entah dengan menggunakan gelas atau botol bekas aqua, dan yang terakhir saya malah beli ember dengan gayung pribadi, yang emang saya bawa kalau saya hendak ‘begitu’. Untungnya di lantai tersebut seluruhnya disewa oleh Company Z, jadi setidaknya saya gak akan dianggap cleaning service berdasi dengan bawa-bawa ember dan gayung segala oleh pegawai dari kantor lain. Kalau teman-teman di Company Z sih udah apal dengan kelakuan saya ;P

Jangan-jangan, karena Company Z tidak dapat menyediakan toilet yang adequate untuk kebutuhan saya, makanya saya akhirnya terdampar hingga sekarang (setelah melewati proses tes rekrutmen selama 1 tahun!) di kantor ini. Toiletnya? Di bagian saya sih OK BANGET! Tidak mewah, namun cukup comfy, aromanya juga good, dan persediaan air berlimpah ruah. Rutinitas pagi hari pun terasa berjalan sangat lancaaarr.. He..he.. Waduh, jangan-jangan emang disinilah perhentian saya karena toilet-nya udah pas banget nih!

But, masalah mulai timbul kalau saya sedang mengadakan perjalanan dinas ke cabang-cabang di kantor saya yang sekarang. Biasanya 1 kali perjalanan dinas minimal memerlukan waktu 10 hari untuk berdiam di satu kota tersebut. Misalnya seperti di kantor cabang kota ‘B’, begitu ‘serangan alam’ mulai menunjukkan tandanya.. saya buru-buru lari ke hotel (yang terletak di sebelah kantor cab. ‘B’) dengan upaya ‘penahanan’ yang maksimal! Soalnya saya yakin gak bakalan ‘konsen’ dengan toilet di kantor itu. Jadi, lebih baik agak jauh sedikit tapi ‘aman’. Hanya saja, kalau seperti ke kantor cabang ‘M’, ‘L’, ‘S’, ‘J’ dan ‘Y’ yang toilet-nya rada-rada tidak memenuhi spesifikasi saya dan letaknya jauh dari hotel, terpaksalah saya ‘menyesuaikan’ diri dengan ‘toleransi maksimal mode on’. Biasanya sih memejamkan mata dikit, atau mengalihkan ke hal-hal lain, atau mempercepat proses supaya jangan terlalu lama ada di dalam toilet! He..he..

So, should there be any chance for me to be the top management of one enterprise/institution someday, you’ll bet I’ll locate a proper budget to maintain nice restrooms for all employees.

It’s a promise..

;P

About me..

Foto saya
I've been passing time watching trains go by.. All of my life, lying on the sand watching seabirds fly.. wishing there would be, someone's waiting home for me..