Pak Bakrie, jadi gak sih membangun Universal Studio di Jakarta?
Jumat, 11 Februari 2011
Singapore on CNY 2011 (4): Universal Studio? Just Once is Enough for me..
Pak Bakrie, jadi gak sih membangun Universal Studio di Jakarta?
Singapore on CNY 2011 (3): Mustafa ya Mustafa..
Mustafa Department Store yang terkenal dengan nama ‘Mustafa’ adalah tempat yang mudah dicapai dengan menggunakan MRT. Pilihlah Farrer Park Station (jalur ungu, wah, saya lupa, itu north, east, atau south ya?), dan keluar dari Farrer Park, Anda langsung dengan mudahnya menemukan department store yang bernama, “Mustafa & Samsuddin Co. Pte, Ltd.” Farrer Park adalah kawasan di dekat Little India, dan rasanya mendengar nama kawasan ‘Little India’, sudah kebayang dong isi Mustafa itu mayoritas adalah orang-orang bersuku bangsa apa aja? Pastihe bisahe ketebake.. hehehe...
Pertama kali saya mengenal Mustafa itu di tahun 2008, pada saat kunjungan saya yang ketiga di Singapore. Mustafa ini beroperasi selama 24 jam, dan waktu itu saya pergi sekitar jam 22.30 ke sana, sehingga suasana sudah terbilang agak sepi. Namun, kali ini saya merasa bahwa saya tidak sekuat yang dulu lagi untuk keluar berpergian di malam hari (yah, walau pun belum renta-renta amat sih, hehehe), sehingga sekitar jam 15.00, saya putuskan dari Suntec City (tempat saya meng-eksplor sale buku-buku di Carefour yang ada di mall itu) untuk beralih ke Mustafa.
Saya juga tidak ingat persis, berapa lantai yang dimiliki Mustafa itu. Namun sepertinya HAMPIR seluruh barang di jual di situ. Elektronik, Pakaian, Parfum, DVD-CD, buku-buku, groceries, dan masih banyak lagi. Samakan saja stok Mustafa itu dengan Carefour, tapi dengan tampilan yang lebih kumal dan sesak. Saya jadi ingat masa kecil saya di kompleks pertokoan Aldiron Blok M Plaza di tahun 80-an. Mirip sekali dengan apa yang ada di Mustafa itu. Ya bentuk bangunannya, dan juga isinya. Hanya saja Mustafa sangat jauh lebih lengkap ‘jualannya’ dibandingkan dengan Aldiron pada masa jayanya.
Karena kunjungan saya kali ini dilakukan pada sore hari, di hari libur pada jam yang sangat strategis, maka Mustafa pun PENUH SESAK dengan BERBAGAI UMAT MANUSIA dari SELURUH PENJURU DUNIA (yang terakhir ini agak-agak efek lebay dikit lah, hehehe). Dari luar pun terlihat tempat itu penuh sesak! Dan sialnya, ketika saya masuk pintu gerbang gedung, all of sudden alarm keamanan berbunyi! Shit! Sepertinya buku yang saya beli di Carefour Suntec itu yang menjadi gara-gara (belum dinetralisasi pengamannya). Saya pun langsung digiring ke petugas keamanan, yang memohon untuk memeriksa seluruh barang bawaan saya. Untungnya semua aman-aman saja, dan saya ‘dilepas’ oleh mereka dengan ‘ikhlas’ untuk berbelanja di Mustafa.
Walau pun dalam keadaan penuh sesak, dengan pengunjung mayoritas orang India, saya tetap meluangkan waktu untuk memilih-milih barang yang saya butuhkan. Hebat juga pikir saya, toko yang sebenarnya dikategorikan ‘low level’ ini masih menjual barang-barang ‘high level’ seperti misalnya parfum dari Hugo Boss, atau leather belt dari Arnold Palmer dan Pierre Cardin. Harganya ya hanya lebih sedikit murah (beda sekitar SGD2-5 per item) dari pertokoan di kawasan Orchard. Kecuali untuk barang-barang program promo, seperti Army for Men Hugo Boss 150ml yang dibanderol SGD110 untuk Buy One Get One di Mustafa dan sempat saya lihat dibanderol SGD90 (untuk 1 buah saja) di Metro Orchard!
Groceries yang dijual pun juga beragam, yang kadang-kadang saya tidak temukan di pertokoan besar seperti di Orchard atau pun Suntec. Yang lebih lucunya lagi, busana dengan merk Crocodile yang umumnya saya tidak temukan di kawasan Orchard, dan biasanya hanya saya temukan di Indonesia, kok tiba-tiba bisa ada di Mustafa sini ya? Hebatnya lagi, VCD dan DVD Indonesia pun berkeliaran bebas di tempat ini! Label kategorinya sih, “Malaysian Movies”, tapi begitu kita melihat dengan lebih detil, loh kok di cover disc-nya ada Dian Sastro, Tora Sudiro, wah, wah, ini namanya misleading the information nih.. hehehehe..
Koleksi CD musik Indonesia, Melayu dan India (ya ea lah yaw) juga sangat lengkap sekali ada di sana. CD-CD barat pun juga dijual di sana. Saya sempat tertegun, melihat CD dari Justin Bieber yang dibanderol dengan harga SGD19. Soalnya, saya lihat di kawasan Orchard, di toko mana pun, CD Justin Bieber (dan artis lain yang sejenis dengan ‘kategori produk’ itu) dibanderol dengan harga SGD22. Wah, di sini lebih murah ya? Saya ambil, saya lihat, saya teliti dengan seksama, loh, kok ada tanda “Lunas PPN Indonesia?” Ternyata setelah saya amati baik-baik, CD itu adalah CD produksi Indonesia (yang di Jakarta harga standarnya Rp75.000, atau SGD10), dan kembali di-ekspor ke Singapore serta di-mark up di Mustafa! So, yang saya lihat di Orchard itu adalah CD for sale in Singapore, sementara yang di Mustafa adalah CD for sale in Indonesia. Pantesan ya lebih murah ya, ada-ada ajee ya Mustafeee.. hehehehe..
Saran saya, janganlah ke Mustafa di jam-jam sibuk. Lebih baik Anda beristirahat sejenak di tempat menginap Anda, untuk kembali ke area Mustafa di atas jam 22.00. Soalnya, karena saking penuh sesaknya, saya beberapa kali terinjak-injak pengunjung lain (terutama orang-orang Tamil berbadan besar dan berkulit hitam legam, yang langsung melibas saya nan mungil dan tidak berdaya ini), bahkan lengan saya sempat terluka kecil tergores ujung kardus belanjaan salah seorang Ibu-Ibu India yang berpapasan dengan saya di salah satu lorong rak perbelanjaan (walau pun berulang kali dia said sorry, tapi gue kan udah kegores ya booo). Mustafa ya Mustafa.. Kunjungan Anda ke Singapore tentu akan kurang berkesan bila melewatkan yang satu itu..
Singapore on CNY 2011 (2): CNY di Singapore Sepi? Yakin?
I was sooo speechless at that time..
Mendarat di Changi, saya sudah mempersiapkan mental untuk menerima kondisi kota mati. Yang ada ternyata seluruh resto, cafe dan duty free shop di sana penuh sesak dengan banyak orang. Saya sempat bingung juga, oh, mungkin karena banyak orang kota yang justru datang ke Changi untuk pulang ke kampungnya bertemu sanak saudara masing-masing. Saya hampir mengira dugaan saya benar, ketika berada dalam MRT dari Changi ke tempat penginapan saya di Orchard. Suasana MRT-nya sepi sekali.
Namun, kembali saya menjadi ragu-ragu setelah melihat di stasiun Tanah Merah (interconnection dari Changi menuju ke pusat kota), penumpang mulai tumpah ruah memenuhi MRT. Saya kembali berpikir, mungkin ini adalah penduduk yang hendak bersilaturahmi ke rumah kerabat di kota yang sama. Dan, ketika berhenti di stasiun Orchard, hipotesis saya gagal total untuk diterima. Orchard penuh sesak dengan manusia! Ketika saya berjalan kaki menuju tempat menginap di Lucky Plaza, jalanan di Orchard itu benar-benar jauh dari definisi ‘sepi’.
Hari kedua pun juga sama. Orchard masih ramai. Saya mencoba untuk melangkah lebih jauh ke daerah Suntec Mall dan Raffless City Link Mall, termasuk ke Marina Mall. Sepi sih memang. Tidak seramai di Orchard. 70% toko-toko di mall-mall tersebut tutup. Namun, beberapa restoran chinesse dan american fastfood tetap buka. Carefour si ritel besar pun juga tetap beroperasi, dan memberikan kegiatan kepada saya untuk memeriksa sale buku-buku up to 70% (buku-buku anak-anak, fiksi, dan social sciences) yang ditawarkannya. Sekitar jam 15.00 saya mencoba untuk pergi ke kawasan Little India dan Serangoon Plaza yang terkenal dengan Mustafa Department Store-nya. Wah, kata ‘sepi’ sepertinya tidak dikenal di kawasan ini pada hari ke-1 CNY 2011. Ya memang sih, saya bisa pastikan 70% pengunjungnya adalah bangsa rumpun tamil (India, Bangladesh, Pakistan, Srilangka), yang di kota Medan umumnya disebut dengan ‘kaum keling’. Tentunya, semakin membuat saya yang berkulit kuning ini menjadi seperti mutiara di tengah-tengah tanah hitam, hehehe. Kawasan Orchard pun juga masih tetap ramai pada jam 21.00 ketika saya pergi ke bandara Changi (yang juga masih tetap ramai pada jam itu) untuk menjemput istri saya dari Jakarta..
Jadi, Singapore sepi on CNY? Ah, jangan terlalu percaya dengan kabar burung lah..Percaya lah pada burung milik sendiri atau pun milik pasangan masing-masing saja, hehehe..
Singapore on CNY 2011 (1): Bekerja demi Sesuap Nasi, eh, Sesuap Cuti..
Dan seperti Kaum Komunis Rusia mau pun Kaum Republik di Prancis, saya berhasil pula merebut kekuasaan! Meraih cuti 2 hari! Dengan perjuangan yang bersimbah darah dan air mata walau pun hanya 2 hari saja loh! Kebayang.. 2 hari sajaaaaaaaa.. Bagaimana kalau 2 minggu full ya? Hehehe..
Biasanya sih kalo awalnya penuh perjuangan, akhirnya pasti membahagiakan.. Benarkah begitu? Simak catatan-catatan kami berikutnya.. hehehe..
Selasa, 11 Januari 2011
It's Always Hot with Hot Money
Sekilas Mengenai Hot Money
Walau pun belum terdapat definisi yang jelas mengenai hot money, dalam pengertian ekonomi, hot money merupakan uang yang dapat keluar masuk ke satu negara (untuk ditanamkan dalam instrumen keuangan) dengan bebas, umumnya berjangka pendek atau dalam waktu yang tidak terlalu lama. Efek positifnya, uang masuk tersebut dapat menjadi nilai tambah bagi perekonomian suatu negara, yang sekaligus juga dapat memberikan efek negatif cukup dahsyat bila bergerak keluar sewaktu-waktu tanpa diduga sebelumnya.
Hot money adalah dana yang berasal dari pihak asing, atau dari luar Indonesia. Seperti yang kita ketahui, ekonomi dunia (baca: negara-negara maju) saat ini sedang dalam situasi yang kritis. Pada awal bulan November 2010 misalnya, Amerika melalui The Fed (bank sentral negaranya) memutuskan untuk mengucurkan stimulus ke pasar sebesar USD600 Miliar, dengan tujuan untuk menggairahkan ekonomi nasional dan mereduksi tingginya angka pengangguran (9,6%) serta indikasi deflasi. Bahkan sebelumnya, pada bulan Maret 2009, negara-negara yang tergabung dalam Uni Eropa sepakat untuk meluncurkan program stimulus ekonomi senilai EUR400 Miliar Euro yang akan diterapkan hingga tahun 2011. Dan, seperti tidak ingin kalah, pada Agustus 2010 giliran Jepang yang mengumumkan kebijakan stimulus Ekonomi senilai USD61 miliar.
Aksi The Fed, Uni Eropa dan Jepang tersebut tentunya memberikan pengaruh terhadap negara lainnya di dunia khususnya di negara-negara berkembang (emerging market). Mengingat bahwa suku bunga dolar AS, Euro dan Yen sangat rendah dan diperkirakan akan tetap rendah hingga 2011 (sebagai konsekuensi rapuhnya kondisi ekonomi di wilayah tersebut), maka mata investor global pun ‘berkilau’ melihat pasar emerging market sebagai pasar potensial yang dapat memberikan return tinggi untuk investasi keuangannya. Di Indonesia fenomena hot money ini terwujud dalam tiga instrumen keuangan, yaitu SUN, SBI, dan saham. Sebagai catatan, hot money yang masuk ke Indonesia dalam 9 bulan pertama 2010 adalah sebesar Rp115 Triliun, dengan porsi 64% ke dalam SUN, 18% ke Sertifikat Bank Indonesia (SBI) dan 18% ke pasar saham. Diduga lebih dari Rp20 Triliun porsi hot money tersebut membanjiri pasar saham Indonesia dalam 4 bulan terakhir, yang juga memicu kenaikan yang signifikan terhadap Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan menjadikan bursa Indonesia sebagai bursa dengan imbal hasil tertinggi di Asia.
Pengaruh Hot Money terhadap Perekonomian Nasional
Di satu sisi terlihat bahwa hot money yang masuk dapat menambah cadangan devisa USD dan mata uang asing dalam perekonomian nasional, yang juga berarti mengurangi kelangkaan devisa dan otomatis memperkuat nilai tukar (kurs) mata uang Rupiah. Namun, perlu diwaspadai bahwa penguatan Rupiah yang terus menurus akan menggerus cadangan devisa BI berdenominasi Rupiah. Oleh sebab itu, selanjutnya BI selaku regulator akan melakukan intervensi di pasar uang, dengan menjual rupiah dan membeli USD serta mata uang asing lainnya, walau pun tetap menimbulkan pertanyaan mengenai besarnya kemampuan persediaan ‘material’ BI dalam mengantisipasi derasnya stimulus The Fed dan negara-negara asing lainnya.
Masalah lain juga akan timbul bila cadangan devisa BI dalam USD meningkat secara signifikan dan memperkuat kurs USD. Rupiah yang beredar di pasar dalam jumlah besar akan berpotensi memicu inflasi bila tidak terserap oleh sektor riil, dan yang seperti kita pahami, bahwa kondisi sektor riil di Indonesia pun tidak begitu menggairahkan pada saat ini. Sebaliknya, bila hot money ini mendadak sontak keluar dari Indonesia dan pindah ke negara lain (yang lebih menggiurkan bagi para spekulan, misalnya), dampak buruk dalam bentuk penguatan kurs USD dan beberapa mata uang asing lainnya secara berlebihan serta sentimen pasar terhadap harga saham dan kegiatan konsumsi akan memacu timbulnya inflasi dan ketidakstabilan ekonomi nasional.
Untuk itu, dalam meredam potensi kenaikan inflasi, BI akan melakukan ‘sterilisasi’ dengan tujuan menyerap kembali ekses likuiditas Rupiah melalui mekanisme operasi pasar terbuka (OPT) atau penjualan SBI. Sebagai informasi, nilai SUN AS bertenor 5 tahun hanya memberikan imbal hasil sebesar 1,8%, dan dengan rate SBI yang berkisar pada 6,5% pada saat ini tentu saja akan membawa ‘kerugian’ sebesar 4,7% yang sedapat mungkin dihindari oleh BI di dalam melakukan OPT. Dengan demikian, keberadaan hot money jelas mempersulit BI di dalam menentukan kebijakan stabilitas moneter apa pun yang diambilnya, karena masing-masing kebijakan telah memiliki risiko tersendiri.
There can be Miracles when You Believe
Tidak dapat dipungkiri bahwa pergerakan sentimen pasar adalah faktor yang menentukan terhadap besarnya efek positif dan negatif dari hot money itu sendiri, yang berarti bahwa kepercayaan publik/investor terhadap Pemerintah Indonesia di dalam menetapkan kebijakan politik dan ekonomi menjadi suatu hal yang penting untuk diperhatikan.
Dalam jangka pendek, pembatasan SBI one-month holding period yang baru diterapkan pada pertengahan tahun 2010 ini merupakan salah satu upaya pemerintah (dalam hal ini BI) untuk menjaga kepercayaan publik. Batasan tetap diberikan, namun tidak mengikat, yang berarti bahwa hot money dari para spekulan asing hanya tidak dapat bergerak ‘bebas’ selama sebulan pada SBI dimaksud. Alternatif capital control (pengendalian modal yang ketat dengan impresi ketidakpercayaan pemerintah terhadap publik/investor) tidak dirasa sebagai solusi jangka pendek yang tepat, mengingat UU BI menganut sistem capital free flow (devisa bebas, dana asing bebas masuk dan keluar kapan saja) maka capital control kurang sesuai untuk diterapkan di Indonesia. Hal ini juga diperkuat oleh pengalaman buruk Thailand di tahun 2006 yang mengalami penurunan kepercayaan investor akibat penerapan capital control. Hanya dalam waktu 1 hari setelah capital control diberlakukan, kapitalisasi 20 perusahaan besar di Thailand anjlok tajam dipasar modal.
Menjaga kepercayaan publik terhadap terselenggaranya situasi politik negara yang aman dan dinamis juga merupakan salah satu hal yang harus dilakukan untuk mengupayakan kepastian return dalam pasar keuangan. Terorisme dan tindakan anarkis bersifat politis umumnya langsung akan membawa guncangan kepada return di pasar keuangan sekaligus memacu hot money untuk bergerak keluar-masuk dalam pola yang lebih liar. Sebagai tambahan, rating Indonesia yang baik di tahun 2010 dari The Fitch Ratings, Standard & Poor’s dan Moody’s Investors Service adalah benda berharga yang seyogyanya terus dijaga dan dipertahankan secara berkesinambungan
Yang juga tidak kalah pentingnya adalah bahwa pemerintah harus berupaya meningkatkan kepercayaan publik dalam menggerakkan sektor riil, terutama di dalam pembangunan proyek-proyek milik negara, sehingga pergerakan liar hot money akan dapat dialihkan ke luar dari sektor keuangan dan moneter (yang akan selalu menimbulkan permasalahan ‘lingkaran setan’ tak berujung) menuju kepada sektor fiskal, terlebih investasi dalam proyek-proyek tersebut lebih bersifat jangka panjang dan dapat meredam pergerakan liar hot money yang umumnya berjangka pendek dan cepat. Hanya saja, tipisnya kepercayaan publik terhadap peran pemerintah di dalam sektor rill yang sarat dengan Kolusi, Korupsi dan Nepotisme (KKN) menjadi penghalang yang cukup besar untuk memindahkan perhatian investor dari sektor keuangan.
There can be miracles, when you believe..
The question is, do you believe?
Ask to yourself..
Not to Mariah Carey or even Whitney Houston.. :P
Salam..
Walau pun belum terdapat definisi yang jelas mengenai hot money, dalam pengertian ekonomi, hot money merupakan uang yang dapat keluar masuk ke satu negara (untuk ditanamkan dalam instrumen keuangan) dengan bebas, umumnya berjangka pendek atau dalam waktu yang tidak terlalu lama. Efek positifnya, uang masuk tersebut dapat menjadi nilai tambah bagi perekonomian suatu negara, yang sekaligus juga dapat memberikan efek negatif cukup dahsyat bila bergerak keluar sewaktu-waktu tanpa diduga sebelumnya.
Hot money adalah dana yang berasal dari pihak asing, atau dari luar Indonesia. Seperti yang kita ketahui, ekonomi dunia (baca: negara-negara maju) saat ini sedang dalam situasi yang kritis. Pada awal bulan November 2010 misalnya, Amerika melalui The Fed (bank sentral negaranya) memutuskan untuk mengucurkan stimulus ke pasar sebesar USD600 Miliar, dengan tujuan untuk menggairahkan ekonomi nasional dan mereduksi tingginya angka pengangguran (9,6%) serta indikasi deflasi. Bahkan sebelumnya, pada bulan Maret 2009, negara-negara yang tergabung dalam Uni Eropa sepakat untuk meluncurkan program stimulus ekonomi senilai EUR400 Miliar Euro yang akan diterapkan hingga tahun 2011. Dan, seperti tidak ingin kalah, pada Agustus 2010 giliran Jepang yang mengumumkan kebijakan stimulus Ekonomi senilai USD61 miliar. Aksi The Fed, Uni Eropa dan Jepang tersebut tentunya memberikan pengaruh terhadap negara lainnya di dunia khususnya di negara-negara berkembang (emerging market). Mengingat bahwa suku bunga dolar AS, Euro dan Yen sangat rendah dan diperkirakan akan tetap rendah hingga 2011 (sebagai konsekuensi rapuhnya kondisi ekonomi di wilayah tersebut), maka mata investor global pun ‘berkilau’ melihat pasar emerging market sebagai pasar potensial yang dapat memberikan return tinggi untuk investasi keuangannya. Di Indonesia fenomena hot money ini terwujud dalam tiga instrumen keuangan, yaitu SUN, SBI, dan saham. Sebagai catatan, hot money yang masuk ke Indonesia dalam 9 bulan pertama 2010 adalah sebesar Rp115 Triliun, dengan porsi 64% ke dalam SUN, 18% ke Sertifikat Bank Indonesia (SBI) dan 18% ke pasar saham. Diduga lebih dari Rp20 Triliun porsi hot money tersebut membanjiri pasar saham Indonesia dalam 4 bulan terakhir, yang juga memicu kenaikan yang signifikan terhadap Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan menjadikan bursa Indonesia sebagai bursa dengan imbal hasil tertinggi di Asia.
Pengaruh Hot Money terhadap Perekonomian Nasional
Di satu sisi terlihat bahwa hot money yang masuk dapat menambah cadangan devisa USD dan mata uang asing dalam perekonomian nasional, yang juga berarti mengurangi kelangkaan devisa dan otomatis memperkuat nilai tukar (kurs) mata uang Rupiah. Namun, perlu diwaspadai bahwa penguatan Rupiah yang terus menurus akan menggerus cadangan devisa BI berdenominasi Rupiah. Oleh sebab itu, selanjutnya BI selaku regulator akan melakukan intervensi di pasar uang, dengan menjual rupiah dan membeli USD serta mata uang asing lainnya, walau pun tetap menimbulkan pertanyaan mengenai besarnya kemampuan persediaan ‘material’ BI dalam mengantisipasi derasnya stimulus The Fed dan negara-negara asing lainnya.
Masalah lain juga akan timbul bila cadangan devisa BI dalam USD meningkat secara signifikan dan memperkuat kurs USD. Rupiah yang beredar di pasar dalam jumlah besar akan berpotensi memicu inflasi bila tidak terserap oleh sektor riil, dan yang seperti kita pahami, bahwa kondisi sektor riil di Indonesia pun tidak begitu menggairahkan pada saat ini. Sebaliknya, bila hot money ini mendadak sontak keluar dari Indonesia dan pindah ke negara lain (yang lebih menggiurkan bagi para spekulan, misalnya), dampak buruk dalam bentuk penguatan kurs USD dan beberapa mata uang asing lainnya secara berlebihan serta sentimen pasar terhadap harga saham dan kegiatan konsumsi akan memacu timbulnya inflasi dan ketidakstabilan ekonomi nasional.Untuk itu, dalam meredam potensi kenaikan inflasi, BI akan melakukan ‘sterilisasi’ dengan tujuan menyerap kembali ekses likuiditas Rupiah melalui mekanisme operasi pasar terbuka (OPT) atau penjualan SBI. Sebagai informasi, nilai SUN AS bertenor 5 tahun hanya memberikan imbal hasil sebesar 1,8%, dan dengan rate SBI yang berkisar pada 6,5% pada saat ini tentu saja akan membawa ‘kerugian’ sebesar 4,7% yang sedapat mungkin dihindari oleh BI di dalam melakukan OPT. Dengan demikian, keberadaan hot money jelas mempersulit BI di dalam menentukan kebijakan stabilitas moneter apa pun yang diambilnya, karena masing-masing kebijakan telah memiliki risiko tersendiri.
There can be Miracles when You Believe
Tidak dapat dipungkiri bahwa pergerakan sentimen pasar adalah faktor yang menentukan terhadap besarnya efek positif dan negatif dari hot money itu sendiri, yang berarti bahwa kepercayaan publik/investor terhadap Pemerintah Indonesia di dalam menetapkan kebijakan politik dan ekonomi menjadi suatu hal yang penting untuk diperhatikan.
Dalam jangka pendek, pembatasan SBI one-month holding period yang baru diterapkan pada pertengahan tahun 2010 ini merupakan salah satu upaya pemerintah (dalam hal ini BI) untuk menjaga kepercayaan publik. Batasan tetap diberikan, namun tidak mengikat, yang berarti bahwa hot money dari para spekulan asing hanya tidak dapat bergerak ‘bebas’ selama sebulan pada SBI dimaksud. Alternatif capital control (pengendalian modal yang ketat dengan impresi ketidakpercayaan pemerintah terhadap publik/investor) tidak dirasa sebagai solusi jangka pendek yang tepat, mengingat UU BI menganut sistem capital free flow (devisa bebas, dana asing bebas masuk dan keluar kapan saja) maka capital control kurang sesuai untuk diterapkan di Indonesia. Hal ini juga diperkuat oleh pengalaman buruk Thailand di tahun 2006 yang mengalami penurunan kepercayaan investor akibat penerapan capital control. Hanya dalam waktu 1 hari setelah capital control diberlakukan, kapitalisasi 20 perusahaan besar di Thailand anjlok tajam dipasar modal.
Menjaga kepercayaan publik terhadap terselenggaranya situasi politik negara yang aman dan dinamis juga merupakan salah satu hal yang harus dilakukan untuk mengupayakan kepastian return dalam pasar keuangan. Terorisme dan tindakan anarkis bersifat politis umumnya langsung akan membawa guncangan kepada return di pasar keuangan sekaligus memacu hot money untuk bergerak keluar-masuk dalam pola yang lebih liar. Sebagai tambahan, rating Indonesia yang baik di tahun 2010 dari The Fitch Ratings, Standard & Poor’s dan Moody’s Investors Service adalah benda berharga yang seyogyanya terus dijaga dan dipertahankan secara berkesinambunganYang juga tidak kalah pentingnya adalah bahwa pemerintah harus berupaya meningkatkan kepercayaan publik dalam menggerakkan sektor riil, terutama di dalam pembangunan proyek-proyek milik negara, sehingga pergerakan liar hot money akan dapat dialihkan ke luar dari sektor keuangan dan moneter (yang akan selalu menimbulkan permasalahan ‘lingkaran setan’ tak berujung) menuju kepada sektor fiskal, terlebih investasi dalam proyek-proyek tersebut lebih bersifat jangka panjang dan dapat meredam pergerakan liar hot money yang umumnya berjangka pendek dan cepat. Hanya saja, tipisnya kepercayaan publik terhadap peran pemerintah di dalam sektor rill yang sarat dengan Kolusi, Korupsi dan Nepotisme (KKN) menjadi penghalang yang cukup besar untuk memindahkan perhatian investor dari sektor keuangan.
There can be miracles, when you believe..
The question is, do you believe?
Ask to yourself..
Not to Mariah Carey or even Whitney Houston.. :P
Salam..
Jumat, 17 September 2010
Redenominasi: There can be Miracles, When You Believe..
Lagi-lagi nih, karena bidang pekerjaan saya erat hubungan dengan bidang bisnis, manajemen dan ekonomi, hampir sebagian besar kenalan atau kerabat yang bertemu saya dalam 1 (satu) bulan belakangan ini (termasuk pada saat silaturahmi Lebaran), bertanya kepada saya mengenai istilah horror (saya katakan horror karena mereka bertanya seakan-akan istilah itu merupakan ancaman seperti virus HIV) “Redenominasi”.
Dokter gigi saya, dalam setiap kunjungan saya selalu bertanya, “Sebenarnya menurut you negara kita itu pantes nggak untuk mulai ber-redenominasi?” Atau pertanyaan salah satu kerabat saya, “Redenominasi itu apa emang sengaja dihembuskan biar orang pada lupa sama kasus Century ya?" Saya sempet bengong dengan analisisnya yang kok jauh bener, walo sempet ragu, jangan-jangan iya ya, soalnya begitu masalah redenominasi mengemuka, langsung deh masalah Century ‘terlupakan’. Teman saya bahkan lebih ekstrim lagi, “BI itu udah kurang kerjaan banget ya pake ngusulin Redenominasi segala? Udah deh, daripada begitu, mending orang-orang BI itu disuruh bantuin gue aja di kantor. Kerjaan gue banyak nih.”
Sedemikian takutnya publik terhadap redenominasi. Kalau saja redenominasi ini dijadikan film horror/thriller, rasanya film-film Stephen King lewat dah..
Sesuai dengan informasi yang dipublikasikan oleh BI, redenominasi ini adalah penyederhanaan digit mata uang, yang juga dibarengi oleh penyederhanaan digit harga-harga barang. Jadi misalnya, harga sepaket McDonalds Rp20.000, nanti akan di-redenominasi menjadi Rp20 (tiga nol dibelakangnya dihilangkan), dan BI akan mencetak uang Rp20 sebagai pengganti Rp20.000. Sebenarnya ide ini cukup sederhana dan tidak terdengar menakutkan, karena dimaksudkan agar digit mata uang negara juga kompetitif dibandingkan dengan mata uang asing yang kuat (impresi yang berbeda, harga sepaket McD di US adalah USD5 dan di Indonesia Rp20.000, dengan komparasi bila harga sepaket McD di US adalah USD5 dan di Indonesia Rp20).
Namun, pengalaman buruk yang dialami oleh Indonesia memang membawa kesan tersendiri bagi beberapa generasi lama (yang umumnya lahir sebelum atau dalam kurun waktu 1 s.d 5 tahun setelah kemerdekaan Indonesia). Ambil saja contoh Dokter Gigi saya yang umurnya seangkatan Ibu saya kembali mengenang masa-masa tahun 1960-an, “Apa jangan-jangan redenominasi itu hanya untuk menyamarkan ‘sanering’ seperti tahun 1960 ya? Waktu itu uang dipotong, menjadi tidak bernilai, sementara harga barang-barang tidak berubah (misalnya sepaket McD tetap berharga Rp20.000, sementara uang yang Anda miliki dari Rp20.000 dipotong nilainya menjadi Rp20, sehingga daya beli masyarakat menurun).” Saya meyakinkannya berulang kali bahwa konsep redenominasi bukan seperti itu. Harga barang dan nilai uang sama-sama dipangkas nominal nilainya. Ini hanya masalah nominal saja, bukan masalah nilai barang itu sendiri.
Yang semula saya tidak terlalu perduli dengan urusan redenominasi ini, akhirnya saja jadi menerabas ke beberapa koleksi jurnal dan penelitian ilmiah dalam bidang ekonomi untuk kategori currency values and redenomination. Dari jurnal tersebut diketahui, bahwa beberapa negara yang berencana meredenominasi mata uangnya ini rata-rata membutuhkan waktu yang cukup panjang untuk finalisasi kebijakannya. Dan, negara-negara yang melakukannya, ya, negara-negara dengan mata uang yang tidak terapresiasi secara internasional (istilahnya, mata uang negaranya nggak diminati atau nggak banyak fans-nya, hehehe, bukan kayak USD, GBP atau Euro yang fans-nya berjibun tersebar di muka bumi ini). Hasil penelitian membuktikan, ada negara yang sukses beredenominasi, dan ada juga yang gagal.
Kegagalan tersebut terutama sekali disebabkan karena ketidakpercayaan warga negara kepada negara/pemerintah yang meredenominasi mata uangnya. Di Rusia misalnya, publik merasa pemerintah seperti merampok kekayaan rakyat dengan meredenominasi mata uangnya, sehingga setelah diredenominasi, inflasi pun tetap tinggi di negara itu. Hal serupa juga terjadi di Zimbabwe, Argentina dan Brasil. Korea Utara justru lebih tragis lagi dengan proyek redenominasinya, karena ternyata warga tidak bisa menukarkan stok uang Won (mata uang Korea Utara) lama menjadi Won baru yang telah disederhanakan digit-nya karena berbagai alasan yang tampaknya ‘disengaja’ oleh pemerintah untuk mengatasi inflasi (dengan cara otoriteristik yang cukup memaksa).
Bagaimana halnya dengan Indonesia? Sepertinya sih, dari reaksi yang saya dapatkan selama ini mengenai redenominasi di negara kita, rasanya kepercayaan publik terhadap pemerintah Indonesia masih nol. Publik masih menganggap bahwa proyek redenominasi ini bukan sekedar menyederhanakan digit mata uang, namun lebih ke arah strategi politik dan ‘membungkus sesuatu’. Sebenarnya agak berbahaya juga untuk melaksanakan redenominasi di tengah-tengah ketidakpercayaan publik. Anda bisa bayangkan? Publik yang panik akan buru-buru menghabiskan uang yang dipegangnya dalam bentuk berbagai barangdan komoditi, sehingga inflasi malah bisa lebih membubung tinggi. Atau misalnya mereka malah menukarkan uang lokal ke mata uang asing, melarikannya ke luar negeri, dan menimbulkan krisis valuta asing kemudian.
Dalam pemikiran yang tulus, saya percaya niat baik pemerintah dalam redenominasi ini adalah untuk membuat posisi mata uang kita lebih bergengsi di mata dunia (sekaligus menghemat tenaga kasir di Bank mau pun di BI untuk menghitung lembaran-lembaran uang Rupiah kita, barangkali, hehehehe). Alangkah indahnya bila nilai USD1 = Rp9 misalnya dan bukan Rp9000. Namun, perlu dicermati juga bahwa permasalahan ini tidak akan selesai begitu saja bila dihadapkan pada satu benda penting bernama ‘ketidakpercayaan’. Ketidakpercayaan publik terhadap kinerja pemerintah akan dapat melonjakkan inflasi (kenaikan harga barang karena kelangkaan stok di pasar akibat paranoia publik dalam perilaku pembelanjaannya), dan bukan tidak mungkin, hasil dari redenominasi yang memangkas tiga digit, justru malah akan menimbulkan tiga digit baru (balik ke posisi semula) dalam kurun waktu yang tidak terlalu lama dan tidak terduga sebelumnya.
There can be miracles, when you believe..
The question is, do you believe?
Ask about this to yourself, not to Mariah Carey or Withney Houston.. :P
Salam..
Dokter gigi saya, dalam setiap kunjungan saya selalu bertanya, “Sebenarnya menurut you negara kita itu pantes nggak untuk mulai ber-redenominasi?” Atau pertanyaan salah satu kerabat saya, “Redenominasi itu apa emang sengaja dihembuskan biar orang pada lupa sama kasus Century ya?" Saya sempet bengong dengan analisisnya yang kok jauh bener, walo sempet ragu, jangan-jangan iya ya, soalnya begitu masalah redenominasi mengemuka, langsung deh masalah Century ‘terlupakan’. Teman saya bahkan lebih ekstrim lagi, “BI itu udah kurang kerjaan banget ya pake ngusulin Redenominasi segala? Udah deh, daripada begitu, mending orang-orang BI itu disuruh bantuin gue aja di kantor. Kerjaan gue banyak nih.”
Sedemikian takutnya publik terhadap redenominasi. Kalau saja redenominasi ini dijadikan film horror/thriller, rasanya film-film Stephen King lewat dah..
Sesuai dengan informasi yang dipublikasikan oleh BI, redenominasi ini adalah penyederhanaan digit mata uang, yang juga dibarengi oleh penyederhanaan digit harga-harga barang. Jadi misalnya, harga sepaket McDonalds Rp20.000, nanti akan di-redenominasi menjadi Rp20 (tiga nol dibelakangnya dihilangkan), dan BI akan mencetak uang Rp20 sebagai pengganti Rp20.000. Sebenarnya ide ini cukup sederhana dan tidak terdengar menakutkan, karena dimaksudkan agar digit mata uang negara juga kompetitif dibandingkan dengan mata uang asing yang kuat (impresi yang berbeda, harga sepaket McD di US adalah USD5 dan di Indonesia Rp20.000, dengan komparasi bila harga sepaket McD di US adalah USD5 dan di Indonesia Rp20).Namun, pengalaman buruk yang dialami oleh Indonesia memang membawa kesan tersendiri bagi beberapa generasi lama (yang umumnya lahir sebelum atau dalam kurun waktu 1 s.d 5 tahun setelah kemerdekaan Indonesia). Ambil saja contoh Dokter Gigi saya yang umurnya seangkatan Ibu saya kembali mengenang masa-masa tahun 1960-an, “Apa jangan-jangan redenominasi itu hanya untuk menyamarkan ‘sanering’ seperti tahun 1960 ya? Waktu itu uang dipotong, menjadi tidak bernilai, sementara harga barang-barang tidak berubah (misalnya sepaket McD tetap berharga Rp20.000, sementara uang yang Anda miliki dari Rp20.000 dipotong nilainya menjadi Rp20, sehingga daya beli masyarakat menurun).” Saya meyakinkannya berulang kali bahwa konsep redenominasi bukan seperti itu. Harga barang dan nilai uang sama-sama dipangkas nominal nilainya. Ini hanya masalah nominal saja, bukan masalah nilai barang itu sendiri.
Yang semula saya tidak terlalu perduli dengan urusan redenominasi ini, akhirnya saja jadi menerabas ke beberapa koleksi jurnal dan penelitian ilmiah dalam bidang ekonomi untuk kategori currency values and redenomination. Dari jurnal tersebut diketahui, bahwa beberapa negara yang berencana meredenominasi mata uangnya ini rata-rata membutuhkan waktu yang cukup panjang untuk finalisasi kebijakannya. Dan, negara-negara yang melakukannya, ya, negara-negara dengan mata uang yang tidak terapresiasi secara internasional (istilahnya, mata uang negaranya nggak diminati atau nggak banyak fans-nya, hehehe, bukan kayak USD, GBP atau Euro yang fans-nya berjibun tersebar di muka bumi ini). Hasil penelitian membuktikan, ada negara yang sukses beredenominasi, dan ada juga yang gagal.
Kegagalan tersebut terutama sekali disebabkan karena ketidakpercayaan warga negara kepada negara/pemerintah yang meredenominasi mata uangnya. Di Rusia misalnya, publik merasa pemerintah seperti merampok kekayaan rakyat dengan meredenominasi mata uangnya, sehingga setelah diredenominasi, inflasi pun tetap tinggi di negara itu. Hal serupa juga terjadi di Zimbabwe, Argentina dan Brasil. Korea Utara justru lebih tragis lagi dengan proyek redenominasinya, karena ternyata warga tidak bisa menukarkan stok uang Won (mata uang Korea Utara) lama menjadi Won baru yang telah disederhanakan digit-nya karena berbagai alasan yang tampaknya ‘disengaja’ oleh pemerintah untuk mengatasi inflasi (dengan cara otoriteristik yang cukup memaksa).
Bagaimana halnya dengan Indonesia? Sepertinya sih, dari reaksi yang saya dapatkan selama ini mengenai redenominasi di negara kita, rasanya kepercayaan publik terhadap pemerintah Indonesia masih nol. Publik masih menganggap bahwa proyek redenominasi ini bukan sekedar menyederhanakan digit mata uang, namun lebih ke arah strategi politik dan ‘membungkus sesuatu’. Sebenarnya agak berbahaya juga untuk melaksanakan redenominasi di tengah-tengah ketidakpercayaan publik. Anda bisa bayangkan? Publik yang panik akan buru-buru menghabiskan uang yang dipegangnya dalam bentuk berbagai barangdan komoditi, sehingga inflasi malah bisa lebih membubung tinggi. Atau misalnya mereka malah menukarkan uang lokal ke mata uang asing, melarikannya ke luar negeri, dan menimbulkan krisis valuta asing kemudian.Dalam pemikiran yang tulus, saya percaya niat baik pemerintah dalam redenominasi ini adalah untuk membuat posisi mata uang kita lebih bergengsi di mata dunia (sekaligus menghemat tenaga kasir di Bank mau pun di BI untuk menghitung lembaran-lembaran uang Rupiah kita, barangkali, hehehehe). Alangkah indahnya bila nilai USD1 = Rp9 misalnya dan bukan Rp9000. Namun, perlu dicermati juga bahwa permasalahan ini tidak akan selesai begitu saja bila dihadapkan pada satu benda penting bernama ‘ketidakpercayaan’. Ketidakpercayaan publik terhadap kinerja pemerintah akan dapat melonjakkan inflasi (kenaikan harga barang karena kelangkaan stok di pasar akibat paranoia publik dalam perilaku pembelanjaannya), dan bukan tidak mungkin, hasil dari redenominasi yang memangkas tiga digit, justru malah akan menimbulkan tiga digit baru (balik ke posisi semula) dalam kurun waktu yang tidak terlalu lama dan tidak terduga sebelumnya.
There can be miracles, when you believe..
The question is, do you believe?
Ask about this to yourself, not to Mariah Carey or Withney Houston.. :P
Salam..
Kamis, 02 September 2010
THE IDEAL IS THE IDOL, NOT THE IDLE
Sepupu saya sebenarnya sudah memiliki pekerjaan, namun sepertinya jam kerja shifting (bisa masuk jam 8 pagi, jam 4 sore, atau pun jam 12 malam) dengan tingkat bayaran yang cukup minim dan tanpa mendapatkan tunjangan yang layak (no medical or overtime allowance) membuat dia gerah dan ingin cepat-cepat hengkang dari pekerjaannya. To be honest, apa yang dia kerjakan itu sejujurnya bisa dilakukan oleh lulusan SMA. Namun, hare gene, di saat mencari pekerjaan susahnya bukan main, mau tidak mau, dia harus menerima dulu apa pun yang ada agar tidak terlalu lama menjadi seorang yang idle (tidak punya pekerjaan) walau pun pekerjaan itu terasa under qualification dengan strata S1 yang dimilikinya dan sangat jauh sekali untuk mewujudkan cita-citanya menjadi seorang idol.. hehehe.
Dan, dalam satu kesempatan karena mungkin dia begitu jengkel dengan nasibnya, pada saat membaca koran, langsung lah dia berujar, “Indonesia ini gimana sih? Saling nyalah2in mulu kerjaannya! Pemerintah bilang kalo BI meningkatkan suku bunga, katanya meredam inflasi namun mempersulit sektor riil dan mempersulit tersedianya lapangan kerja, tapi kalo suku bunga diturunin, inflasi meningkat walau pun sektor rill bergerak dan membuka banyak lapangan kerja. Sementara BI bilang harusnya pemerintah yang pinter-pinter menggerakkan sektor rill tanpa harus melalui media penurunan suku bunga. Ini gimana sih, Mas? Mas ngerti ekonomi kan?”
Oh God, why is this happening to me again? Hehehehe..
Saya menjelaskan kepada dia, sepengetahuan saya, negara kita ini sejak tahun 1999 memutuskan untuk memberikan independensi kepada Bank Sentral, yakni Bank Indonesia, sebagai otoritas moneter, yang berarti BI dapat mengambil keputusan secara independen lepas dari tanggung jawab pemerintah. Dengan demikian, pemerintah adalah sektor yang bertugas untuk menguasai area fiskal, atau sektor riil deh kalo istilah keren-nya. Jadi, untuk penyediaan lapangan pekerjaan, ya itu menjadi tugasnya dari area fiskal, yang berarti tanggung jawabnya pemerintah.
Nah, masalahnya banyak analis ekonomi berpendapat bahwa penentuan suku bunga dari BI itulah yang cukup berperan untuk menggerakkan sektor fiskal. Namun, di satu sisi, BI juga harus waspada untuk menaik-turunkan suku bunga agar tidak terjadi inflasi. Bila kembali melihat kepada tugas BI sesuai dengan UU No. 3 tahun 2004, single task BI hanyalah mengenai masalah inflasi yang diwujudkan melalui penatausahaan sistem moneter, pengawasan bank dan sistem pembayaran, jadi BI tidak bertanggung jawab untuk mengurangi tingkat pengangguran. Berbeda halnya dengan UU No. 13 tahun 1968, ketika itu BI memang memiliki tanggung jawab untuk mengentaskan pengangguran melalui penyediaan lapangan kerja yang sebesar-besarnya (maksudnya apa pada disuruh KKN untuk kerja di BI ya? Hehehe).
But anyway, at the same time, saya melihat artikel di Majalah Time (15 Agustus 2010, ditulis oleh Michael Grunwald) dengan judul, “Why Bernanke Isn’t Doing More to Boost the Economy?” Diterangkan bahwa, “Bernanke honestly believed that unemployment was the nation’s most serious economic problem, but he didn’t plan to do anything about it. Bernanke fears the potential benefits of more monetary stimulus would be modest and uncertain, while the potential risks would be dramatic and real. He’s obviously not a do-nothing chairman. 9 months ago, he clearly believed that doing nothing was his least awful option, and he still seems to fell that way.”
Setelah melihat artikel tersebut, saya lega, karena bisa memberi penjelasan kepada sepupu saya, bahwa problem bentrokan antara sektor fiskal dan moneter dalam penyediaan lapangan kerja (dan juga bisa menular kepada hal-hal lain, tidak terbatas pada penyediaan lapangan kerja semata) tidak hanya terjadi di Indonesia, namun juga terjadi di negara superpower seperti Amerika. Tapi kelegaan saya langsung pupus, begitu dia meminta opini saya, “Jadi, menurut Mas, harusnya BI itu bertanggung jawab nggak untuk memastikan tersedianya lapangan pekerjaan melalui strategi penetapan suku bunga moneternya?”
Alih-alih salah menjawab, maka saya tawarkan opsi yang cukup negotiable dalam hal ini, “Yang penting adalah koordinasi antara pemerintah dan BI dalam setiap keputusan yang akan mereka ambil dalam penatausahaan ekonomi nasional!”
Sepupu saya manggut-manggut tanda setuju.
Sementara saya yang langsung khawatir kali-kali kalau pertanyaan dia lanjutkan, “Bukannya di negara kita itu koordinasi adalah barang langka, selangka koleksi-koleksi di Museum De Louvre Paris?” Soalnya saya udah nggak punya stok jawaban lagi kalau pertanyaannya menuju ke arah situ.
Untungnya dia tidak bertanya lebih lanjut..
Alhamdullilah deh.. :)
Dan, dalam satu kesempatan karena mungkin dia begitu jengkel dengan nasibnya, pada saat membaca koran, langsung lah dia berujar, “Indonesia ini gimana sih? Saling nyalah2in mulu kerjaannya! Pemerintah bilang kalo BI meningkatkan suku bunga, katanya meredam inflasi namun mempersulit sektor riil dan mempersulit tersedianya lapangan kerja, tapi kalo suku bunga diturunin, inflasi meningkat walau pun sektor rill bergerak dan membuka banyak lapangan kerja. Sementara BI bilang harusnya pemerintah yang pinter-pinter menggerakkan sektor rill tanpa harus melalui media penurunan suku bunga. Ini gimana sih, Mas? Mas ngerti ekonomi kan?”
Oh God, why is this happening to me again? Hehehehe..
Saya menjelaskan kepada dia, sepengetahuan saya, negara kita ini sejak tahun 1999 memutuskan untuk memberikan independensi kepada Bank Sentral, yakni Bank Indonesia, sebagai otoritas moneter, yang berarti BI dapat mengambil keputusan secara independen lepas dari tanggung jawab pemerintah. Dengan demikian, pemerintah adalah sektor yang bertugas untuk menguasai area fiskal, atau sektor riil deh kalo istilah keren-nya. Jadi, untuk penyediaan lapangan pekerjaan, ya itu menjadi tugasnya dari area fiskal, yang berarti tanggung jawabnya pemerintah.Nah, masalahnya banyak analis ekonomi berpendapat bahwa penentuan suku bunga dari BI itulah yang cukup berperan untuk menggerakkan sektor fiskal. Namun, di satu sisi, BI juga harus waspada untuk menaik-turunkan suku bunga agar tidak terjadi inflasi. Bila kembali melihat kepada tugas BI sesuai dengan UU No. 3 tahun 2004, single task BI hanyalah mengenai masalah inflasi yang diwujudkan melalui penatausahaan sistem moneter, pengawasan bank dan sistem pembayaran, jadi BI tidak bertanggung jawab untuk mengurangi tingkat pengangguran. Berbeda halnya dengan UU No. 13 tahun 1968, ketika itu BI memang memiliki tanggung jawab untuk mengentaskan pengangguran melalui penyediaan lapangan kerja yang sebesar-besarnya (maksudnya apa pada disuruh KKN untuk kerja di BI ya? Hehehe).
But anyway, at the same time, saya melihat artikel di Majalah Time (15 Agustus 2010, ditulis oleh Michael Grunwald) dengan judul, “Why Bernanke Isn’t Doing More to Boost the Economy?” Diterangkan bahwa, “Bernanke honestly believed that unemployment was the nation’s most serious economic problem, but he didn’t plan to do anything about it. Bernanke fears the potential benefits of more monetary stimulus would be modest and uncertain, while the potential risks would be dramatic and real. He’s obviously not a do-nothing chairman. 9 months ago, he clearly believed that doing nothing was his least awful option, and he still seems to fell that way.” Setelah melihat artikel tersebut, saya lega, karena bisa memberi penjelasan kepada sepupu saya, bahwa problem bentrokan antara sektor fiskal dan moneter dalam penyediaan lapangan kerja (dan juga bisa menular kepada hal-hal lain, tidak terbatas pada penyediaan lapangan kerja semata) tidak hanya terjadi di Indonesia, namun juga terjadi di negara superpower seperti Amerika. Tapi kelegaan saya langsung pupus, begitu dia meminta opini saya, “Jadi, menurut Mas, harusnya BI itu bertanggung jawab nggak untuk memastikan tersedianya lapangan pekerjaan melalui strategi penetapan suku bunga moneternya?”
Alih-alih salah menjawab, maka saya tawarkan opsi yang cukup negotiable dalam hal ini, “Yang penting adalah koordinasi antara pemerintah dan BI dalam setiap keputusan yang akan mereka ambil dalam penatausahaan ekonomi nasional!”
Sepupu saya manggut-manggut tanda setuju.
Sementara saya yang langsung khawatir kali-kali kalau pertanyaan dia lanjutkan, “Bukannya di negara kita itu koordinasi adalah barang langka, selangka koleksi-koleksi di Museum De Louvre Paris?” Soalnya saya udah nggak punya stok jawaban lagi kalau pertanyaannya menuju ke arah situ.
Untungnya dia tidak bertanya lebih lanjut..
Alhamdullilah deh.. :)
Langganan:
Postingan (Atom)
Arsip Blog
-
▼
2011
(9)
-
▼
Februari
(8)
- Singapore on CNY 2011 (8): Bunuh Diri demi.. Brand...
- Singapore on CNY 2011 (7): Singapore.. Indonesia c...
- Singapore on CNY 2011 (6): Berbicara dan Bergerak ...
- Singapore on CNY 2011 (5): Hunting Buku, CD dan DV...
- Singapore on CNY 2011 (4): Universal Studio? Just...
- Singapore on CNY 2011 (3): Mustafa ya Mustafa..
- Singapore on CNY 2011 (2): CNY di Singapore Sepi? ...
- Singapore on CNY 2011 (1): Bekerja demi Sesuap Nas...
-
▼
Februari
(8)
About me..
- The Heart is A Lonely Hunter
- I've been passing time watching trains go by.. All of my life, lying on the sand watching seabirds fly.. wishing there would be, someone's waiting home for me..