Bahasa yang digunakan oleh penduduk di Singapore umumnya ada empat, yakni Singlish (
English gaya Singaporean), Chinesse (tapi
gak gitu jelas juga, dialek apa yang mereka gunakan), Melayu dan Tamil. Berhubung
English adalah 1-1-nya bahasa internasional yang saya kuasai, maka untuk berkomunikasi di Singapore pun biasanya saya ‘tebal muka’ dulu dengan menggunakan bahasa Indonesia. Bila lawan bicara mulai memandang saya dengan bengong kuadrat, baru saya alihkan ke
English dengan
pronounciation yang sedikit Betawi kombinasi Sunda gitu lah..

Ternyata, dari pertama kali saya berkunjung ke negara ini, gaya berbicara mereka tidak mengalami perubahan yang berarti. Orang-orang
Chinesse-nya misalnya, rata-rata yang saya temui itu kalau berbicara menggunakan
Singlish (
English yang RUSAK menurut saya.. hehehe) yang selalu dilontarkan dalam speed cepat, sehingga saya jadi terbata-bata untuk memahaminya. Belum lagi kosakata yang sering mereka tidak pahami, misalnya ketika memesan McD, sebelumnya saya sudah jelaskan, “
Dining in (makan di tempat)”, memang begitu
terms yang sesuai dengan kaidah-kaidah TOEFL or IELTS kan? Eh, lawan bicara Chinesse saya bengong gitu, malah langsung melontarkan
terms lain, “
Having here?” yang terdengar seperti “
Havingir?” Itu benda apa ya? Hehehe..
Yang lebih menyebalkannya lagi, beberapa (sepertinya
mostly deh)
Chinesse Singapore itu pada saat berbicara terkesan membentak-bentak kita. Oke lah kalau seperti mengatur antrian di Universal Studio, atau Sky Train di Vivo ke Sentosa, yang pengunjungnya membludak dan kadang-kadang susah disiplin dalam antrian, bentak-bentak memang dilegalkan. Tapi kalau untuk membeli makanan, minuman atau pun barang,
mosok kita sebagai pelanggan masih dibentak-bentak juga
sih? Sebenarnya mungkin bukan maksud hati mereka untuk membentak, tapi gaya mereka itu lah yang belum bisa kita anggap normal.

Misalnya
nih, waktu saya mau memesan
hot tea yang ternyata sudah habis, pramusaji chinesse-nya langsung menggeleng-geleng singkat sambil setengah berteriak, “
No Hot Here!
No Hot Here!” Mungkin karena saya juga sudah capek sehabis berkelana di malam hari, saya jadi terbawa emosi, “
IYEE! GUE JUGA UDAH TAU KALO GA ADA!! BIASA AJE KENAPEE?!!” Langsung si pramusaji terbengong-bengong. Pertama, saya yakin mereka tidak mengerti mengenai apa yang saya katakan, dan kedua, pasti mereka pikir saya orang gila kali ya
tereak-tereak begitu? Hehehe. Banyak lagi sih kasus serupa saya alami, terutama kalau hendak memesan
food and beverage. Justru kalau berbelanja di butik, baik
middle brand or high brand, pelayanan diberikan sangat maksimal tanpa membentak-bentak. Iya
sih, sayangnya maksimal di sini adalah Anda akan dibuntuti terus oleh pramuniaganya sampai Anda benar-benar membeli barang dari
store tersebut. Ampun
dah!
Lain lagi pengalaman saya dengan pramuniaga atau petugas keamanan yang termasuk rumpun suku bangsa Tamil. Di Mustafa misalnya, begitu alarm berbunyi pas saya masuk gerbang pintu
store, buru-buru petugas keamanan yang bermuka
Indihe sekalihe ‘mengamankan’ saya, dan menggeledah saya serta barang bawaan saya. Ternyata diketahui bahwa barang bawaan saya yang bermasalah. Saya sempat bertanya kepada dia, “
Can I deposit my things somewhere around here?” Dia hanya memberikan jawaban dalam Bahasa Inggris yang tidak jelas, sambil menggoyang-goyangkan kepala ke kiri dan ke kanan, persis seperti boneka India. Saya kan jadi bengong ya? Akhirnya dari pada pusing, saya menyerah dan minta ijin kepada dia, “
I think, I just want to get out, and come here next time perhaps.” Dia malah menahan tangan saya, “No.. no.. no..” dan kembali menggumam tidak jelas serta menggoyang-goyangkan kepala ke kiri dan ke kanan. Aduh
Mak! Mau kau apakan diriku ini
Mak?!

Selain berbicara dengan cepat, ciri khas dari orang-orang Singapore adalah bergerak dan berjalan dengan cepat. Kalau di stasiun MRT misalnya, saya merasa sedang berada dalam kontes atletik, karena
speed berjalan mereka agak-agak setengah berlari. Sementara itu, dengan para pramuniaga-nya, berulang kali saya mendapatkan pelayanan yang super
duper cepat, mulai dari mengantarkan order, hingga memberikan uang kembalian. Malah pernah, ketika saya membeli CD hingga 5 buah, kasirnya menghitung dengan cepat dan menumpuk CD saya dengan cepat pula, sampai akhirnya tumpukan tidak simetris dan jatuh ke bawah. 1 CD yang saya beli
cover-nya jadi agak retak karena jatuh tadi.
Hih! Ngapain juga
sih cepet-cepet? Bikin barang
gue rusak
aje!!
Kalau mengantri untuk membeli tiket MRT misalnya, kebiasaan ‘cepat’ ini juga berlaku bagi orang Singapore. Memasukkan koin ke mesin pun juga dilakukan dengan ekspres sekali, dan membuat saya jadi tidak enak hati dengan antrian di belakang ketika saya melakukannya dengan
slow. Dan, sekali waktu saya berusaha untuk melakukan hal tersebut dengan cepat,
controller penjual tiket di MRT itu sempat menegur saya, “
Hey, calm down, don’t get too excited!”
Heh, palelo benjut don’t get too excited?!
Lo gak liat ya muka orang-orang di belakang
gue dari tadi udah
asem aja gara-gara
gue slow motion gene?
Biar lambat asal selamat.. salah
deh kayaknya.. Biar cepat dan tamat..
gitu kali ya?